Sriwijaya FC Punya Target 60 Persen Putra Daerah dan Pemain Akademi
Sejak berdiri pada 2004 sebagai hasil akuisisi Persijatim Solo FC, Sriwijaya FC menjadi kebanggaan provinsi Sumatra Selatan berkat sederet prestasi.
Penulis: Hendra Kusuma | Editor: Budi Darmawan
Kondisi Sriwijaya makin berat karena kegagalan pembinaan sepak bola Sumatera Selatan dalam menghasilkan pemain berkualitas. Hal ini diakui sendiri oleh pelaku pembinaan usia dini.
"Pembinaan usia dini Sumsel seperti mati suri beberapa tahun belakangan. Dengan kondisi tersebut, tentu tak bisa disalahkan bila Sriwijaya mencari pemain berkualitas dari luar," ujar Hanief Djohan, Manajer SSB Elang Mas.
Hanya, sinyal perubahan mulai terlihat. Sriwijaya semakin membuka diri terhadap putra daerah Sumsel.
Nama-nama seperti Ichsan Kurniawan, Rizky Dwi Ramadhana (pemain terbaik dan top scorer LSI U-21 musim 2012-2013), ataupun Try Hamdani Goentara berseliweran di tim inti sepanjang TSC.
Selain itu masih ada pemain seperti Teja Paku Alam (kelahiran Painan, Sumatra Barat), Hafit Ibrahim (Jakarta), Zalnando (Bandung), dan Manda Cingi (Lampung).
Kendati bukan kelahiran Sumsel, mereka merupakan binaan akademi Sriwijaya seperti halnya bek kanan senior, Supardi Nasir (Bangka).
"Performa mereka tidak mengecewakan. Semoga ke depan bisa lebih banyak pemain asli Sumsel maupun binaan akademi yang memperkuat tim senior. Kami berharap sekitar 50-60 persen skuat diisi oleh mereka," kata Haris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pelatih-sriwijaya-fc-widodo-c-putra_20160525_074840.jpg)