Harga Karet Terpuruk, Petani Tanam Ubi Racun. Anjlok Lagi, Ini Solusinya
Berbagai spekulasi dilakukan petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Penulis: Evan Hendra | Editor: Darwin Sepriansyah
"Dalam kurun waktu tersebut pola hidup masyarakat berubah drastis. Perputaran perekonomian juga meningkat dengan cepat yang diiringi dengan meningkatnya sejumlah pertokoan dan bisnis di
sejumlah daerah," ungkap Masrur, warga OKU Timur.
Namun euforia masyarakat tersebut kata dia, hanya bertahan dalam beberapa tahun saja yakni hingga tahun 2012 yang disebabkan oleh anjloknya harga getah karet.
Pada tahun tersebut petani karet masih mempertahankan perkebunan karet mereka.
Namun tidak sedikit juga mereka yang mulai mencari alternatif pendapatan lain seperti meminjam perbankan dengan menggadaikan surat tanah mereka hingga menjual kebun karet mereka.
"Harga getah karet mengalami penurunan dibawah Rp 10 ribu. Petani mulai kebingungan. Namun mereka masih berharap besar terjadi kenaikan. Petani mulai berspekulasi mengambil pinjaman perbankan dan menggadaikan kendaraan," ungkapnya.
Namun sejak penurunan tersebut harga getah karet tak kunjung membaik bahkan terus merosot hingga angka Rp. 6 Ribu per kilogram.
Kondisi tersebut tentu saja membuat petani stress, pinjaman perbankan yang mulai membengkak serta hasil perkebunan yang tidak mampu memenuhi biaya operasional perkebunan membuat petani mulai berspekulasi mulai dari menjual kebun hingga mengganti komoditas perkebunan mereka.
"Pada kurun waktu tahun 2012 petani mulai melakukan penebangan karet dan mengganti dengan komoditas lain yang lebih menggiurkan. Saat itu petani tergiur oleh tanaman ubi racun dengan harga
diatas Rp. 1.000 per kilogram. Banyak petani yang mengambil keputusan untuk mengalihfungsikan kebun karet mereka ke ubi racun," terang Masrur.
Muratara Siapkan 15 Ribu Hektare
Di tengah harga ubi karet atau ubi racun yang terjun bebas dan membuat galau petani, Pemkab Musirawas Utara (Muratara) justru berniat membuka lahan perkebunan skala besar.
Instansi terkait setempat memandang perkebunan ubi karet cukup prospek kedepannya sebagai komoditas alternatif, selain komoditas perkebunan karet dan sawit.
Pemerintah setempat sudah menyusun program dan berencana memanfaatkan lahan telantar sekitar 15 ribu hektar untuk membuka perkebunan ubi karet ini.
Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pertanian Perkebunan dan Kehutanan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Muratara, Zazili mengatakan, saat ini sedang dalam tahapan sosialisasi kepada masyarakat terkait rencana pemerintah daerah untuk membuka perkebunan ubi karet.
Namun disisi lain, budidaya perkebunan ubi karet atau ubi racun belum populer di Muratara.
Sampai sejauh ini, belum ada masyarakat yang menanam ubi racun secara profesional dalam jumlah
besar.
Baru sedikit sekali masyarakat yang berkebun ubi jenis ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/petani-ubi-racun_20161106_122618.jpg)