Alex Noerdin Paparan di Honolulu Hawaii
Gubernur Alex Noerdin mengangkat tema Kemitraan Pengelolaan Lanskap (Kelola) Sembilang Dangku (Sen Dang) Sesi.
SRIPOKU.COM, HONOLULU – Gubernur Sumatera Selatan H. Alex Noerdin memaparkan sebuah paradigma baru tentang Sustainable Landscape Manajemen di Sumatera Selatan, di hadapan para peserta IUCN WCC di Hawaii, Senin (5/9) kemarin.
Dalam paparannya ini Gubernur Alex Noerdin mengangkat tema Kemitraan Pengelolaan Lanskap (Kelola) Sembilang Dangku (Sen Dang) Sesi yang diadakan The Zoological Society of London (ZSL).
Sedikit bercerita Gubernur H. Alex Noerdin menjelaskan, pada 2015 kebakaran hutan di Sumatera Selatan merusak 700.000 hektar lahan dan hutan. Upaya untuk mengatasi masalah ini agar tidak terjadi kembali, dengan mengembangkan kemitraan multi-stakeholder mengelola sumber daya alam yang tersisa melalui program kemitraan dalam pengelolaan ekoregion atau landscape.
Dengan tujuan mencapai pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan ekologi yang berkelanjutan dengan konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan hutan dan pemulihan melalui Pengembangan Pertumbuhan Hijau dengan memanfaatkan pendekatan manajemen lanskap berkelanjutan terpadu.
Program ini, kata Alex, untuk mencapai target provinsi dan nasional Indonesia dalam upaya pengurangan efek emisi gas rumah kaca yang juga bermanfaat bagi masyarakat lokal serta perlindungan habitat dan spesies di taman nasional.
Selain itu, kolaborasi dengan lembaga non-pemerintah, seperti lembaga donor internasional dan swasta seperti Asia Oulo and Paper (APP), IDH, GIZ, ZSL Inggris, NICFI, Dana CPO Indonesia, dan Belantara Foundation yang memainkan peran utama dalam perlindungan hutan Indonesia sekaligus peningkatan produktivitas serta penghidupan petani kecil atau masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan.
“Restorasi hutan merupakan masalah yang dekat dengan jantung Indonesia. Sumatera Selatan adalah rumah bagi beberapa hutan hujan dengan keanekaragaman hayati di dunia, dan lebih dari 10.000 spesies tanaman serta merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana gajah, badak, harimau, dan orangutan secara alami ditemukan bersama-sama,” terang Alex.
Dalam kesempatan ini, Alex juga menginformasikan model Landscape Pengelolaan Sembilang Dangku. Kelola Sendang diprakarsai Zoological Society of London dan didanai Pemerintah Norwegia melalui Norwegia International Climate and Forest Initiative (NICFI). Kemudian dibantu Pemerintah Inggris melalui perubahan iklim satuan British Embassy UK (UKCCU) dan David and Lucile Packard Foundation .
Menurutnya, bantuan tersebut akan digunakan untuk mengembangkan program bersama yang dirancang guna konservasi dan restorasi hutan dan peningkatan keterampilan masyarakat lokal dengan telah dibuatnya manajemen lanskap berkelanjutan terpadu atau Kelola Sendang Forum.
Forum ini adalah cara yang terpadu, menjamin keberhasilan maksimum, dan tertinggi dampak jangka panjang dalam menggunakan kontribusi publik dan swasta secara efektif dan efisien.
“Proyek ini diusulkan untuk mencapai pertumbuhan inklusif ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan hutan dan pemulihan serta akhir dari deforestasi dan kebakaran lahan gambut dan hutan. Konsep desain grand diciptakan untuk bekerja sama di antara semua aktor P4 (Public-Private-Orang Partnership) dalam membangun pengelolaan lahan yang efektif didukung oleh kebijakan Pemerintah Sumatera Selatan untuk produksi dan perlindungan, pemantauan serta verifikasi kegiatan yang mengarah pada pengurangan emisi gas rumah kaca," ungkap Alex.
Kelola Sendang, dipaparkan Alex, mencakup Taman Nasional di Kabupaten Banyusin dan Dangku di Banyuasin yang bekerjasama dengan Belantara Foundation dan Asia Pulp and Paper (APP) di Meranti Bentayan Musi Banyusin, Lalan Landscape sebagai Model Produksi dan Perlindungan Sustainable Palm Oil dengan Indonesia Dana CPO dan DH.
Kemudian dengan GIZ Bioclime Jerman di Merang Landscape untuk Keanekaragaman Hayati dan Proyek Perubahan Iklim. Semua ini terdiri dataran rendah, hutan hujan dan kubah gambut yang merupakan habitat penting bagi satwa liar dan berbagai jenis pohon bernilai tinggi dan burung.
Dijelaskannya, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, berharap melalui kongres ini masyarakat internasional akan bergabung bersama untuk mengambil tindakan mendukung pentingnya kondisi alam yang ditemukan di wilayah Sumsel. Hal ini penting, agar konservasi alam dapat memberikan manfaat nyata bagi keanekaragaman hayati, masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Lebih dari 1300 tahun yang lalu, di Prasasti Talang Tuwo, Raja Sriwijaya Sri Baginda Sri Jayanasa mengimbau agar masyarakat melestarikan lingkungan dan hutan mereka dengan menanam pohon, membangun drainase dan pengelolaan sumber air. Ini adalah semangat kami dalam melestarikan planet ini. Kita perlu terus mendukung visi ini,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/paparan-di-hawaii_20160908_231523.jpg)