DKP Kecewa FLS2N Ditiadakan

"Dengan tidak adanya FLS2N Sumsel secara tidak langsung membunuh bakat seni yang ada pada diri pelajar," kata Vebry.

Penulis: Refli Permana | Editor: Tarso

SRIPOKU.COM, PALEMBANG--Dewan Kesenian Palembang (DKP) kecewa ketika mendengar Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi ditiadakan. DKP menilai, peniadaan FLS2N secara tiba-tiba ini sudah membunuh bakat siswa, khususnya bakat seni yang dimiliki oleh para siswa.

Dikatakan Ketua DKP, Vebry Al Lintani, yang lebih membuat pihaknya kecewa adalah selama ini sudah ada perlombaan tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten sebagai seleksi untuk ke tahap provinsi.

Namun, di saat mereka yang sudah lulus seleksi mempersiapkan diri dan mental, Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel malah meniadakan FLS2N tingkat provinsi.

"Jadi, usaha pelajar yang sudah lulus seleksi sia-sia. Dengan tidak adanya FLS2N Sumsel secara tidak langsung membunuh bakat seni yang ada pada diri pelajar," kata Vebry, Minggu (21/8).

Yang lebih membuat Vebry kecewa adalah tidak adanya FLS2N Sumsel tidak membuat Sumsel tanpa wakil untuk FLS2N tingkat nasional. Sayangnya, wakil yang ditunjuk untuk ke sana diduga tidak dipilih sesuai seleksi, namun hanya penunjukan semata dari Disdik Sumsel. Dari informasi yang didapat Vebry, wakil Sumsel yang ditunjuk mungkin saja sudah lulus sekolah.

Selain main tunjuk, beber Vebry, Disdik Sumsel juga menawarkan kepada kabupaten atau kota yang bersedia memberangkatkan pelajarnya untuk FLS2N tingkat nasional. Menurut Vebry, sistem seperti ini tidak menjamin perbaikan prestasi seni bagi daerah. Selain itu,tanpa melalui proses seleksi, belum diketahui kemampuan siswa apakah sanggup bersaing di tingkat nasional.

"Tahun lalu kita sudah dikecewakan dengan pemilihan pemenang dan kembali tahun ini kita dikecewakan. Kita berharap, tahun-tahun mendatang FLS2N dikelola oleh mereka yang betul-betul paham dan menghargai kesenian," kata pria berambut sebahu ini.

Terkait alasan pembatalan FLS2N Sumsel, Vebry mengatakan, dirinya menilai tidak terlalu logis. Dari keterangan yang ia terima, alasan peniadaan lomba di bidang seni untuk para pelajar itu dikarenakan tidak ada biaya.

Namun, faktanya Disdik Sumsel masih bisa melakukan kegiatan semacam Festival Budaya Pelajar, Bujang Gadis Kampus, dan lain-lain sudah terlaksana. Menurut Vebry, FLS2N jauh lebih bisa meningkatkan bakat seni ketimbang dua program tersebut.

Dengan sistem tunjuk tanpa seleksi, Vebry menilai Disdik Sumsel juga sudah tidak menghargai usaha peserta, orangtua, dan sekolah. Tentu bukan hal mudah mempersiapkan diri supaya bisa tampil maksimal ketika seleksi dimulai. Diyakini, keputusan meniadakan FLS2N Sumsel pasti sudah membuat banyak pihak kecewa.

Sementara itu, Widodo selaku Kepala Disdik Sumsel membenarkan peniadaan FLS2N tingkat provinsi dikarenakan tidak adanya dana. Namun, demi menjaga nama baik Sumsel, tetap diutus wakil dari Sumsel untuk ikut FLS2N tingkat nasional. Adapun cara yang dilakukan adalah berdasarkan kesepakatan dari seluruh Kadisdik di Sumsel. Dengan kata lain, pemilihan dilakukan bukan hanya dilakukan Disdikpora Sumsel.

"Selain itu, kita juga meminta kepada pihak yang tidak berkompeten di bidang ini untuk tidak berbicara. Penyelnggaraan FLS2N wewenang instansi Disdik, bukan mereka yang bergelut di bidang kesenian semata," kata Widodo.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved