ASSR, Deteksi Derajat Gangguan Dengar pada Anak
"ASSR dapat memberikan informasi frekuensi spesifik dibandingkan click ABR yang telah lebih dulu dikenal luas,"
Penulis: Andi Wijaya | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- ASSR (Auditory Steady-State Response) adalah sebuah pemeriksaan pendengaran objektif yang makin berkembang dengan pesat dekade terakhir ini. Gangguan pendengaran (hearing loss) dan ketulian (deafness) dapat terjadi pada semua usia sejak lahir sampai usia lanjut, namun kadang-kadang tidak disadari, terutama pada bayi.
Dr Abla Ghanie Irwan SpTHT-KL (K) FICS dari RSUP Dr Mohamad Hoesin (RSMH), Palembang mengatakan, dampak gangguan pendengaran dan ketulian tidak hanya berakibat pada terganggunya perkembangan wicara dan bahasa, namun pada tahap selanjutnya akan menyebabkan hambatan perkembangan akademik.
"Dampaknya antara lain ketidakmampuan bersosialisasi, perilaku emosional dan berkurangnya kesempatan memperoleh pekerjaan," ungkapnya.
Ia mengatakan, diagnosis dini sangat besar pengaruhnya dalam hal mengurangi dampak kecacatan yang lebih besar di kemudian hari, terutama pada bayi, karena erat kaitannya dengan perkembangan bicara dan bahasa. Prevalensi gangguan pendengaran sedang hingga sangat berat bilateral pada bayi baru lahir adalah 1–3 per 1000 kelahiran. "Di Indonesia, berdasarkan survei kesehatan indra pendengaran di tujuh provinsi tahun 1994–1996, sebesar 0,1 persen penduduk menderita tuli kongenital," katanya.
Menurutnya, hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran pada anak kelompok usia 0–4 tahun, 5–6 tahun dan 7–18 tahun berturut-turut sebesar 8,3 persen, 9,5 persen dan 10,4 persen. Berdasarkan data kunjungan poliklinik Departemen THT FKUI/RSCM tahun 2005, didapatkan prevalensi gangguan pendengaran pada anak usia 6 bulan hingga 6 tahun sebesar 36,92 persen.
Data kunjungan klinik Neurootologi RSMH sendiri kurang lebih 20-30
kali per bulan pemeriksaan BERA dan ASSR pada anak-anak dengan gangguan bicara. American Speech Language Hearing Association (ASHA) merekomendasikan pemeriksaan pendengaran anak secara komprehensif yang mencakup penilaian tingkah laku (behavioral), elektrofisiologis
"Serta perkembangan motorik, wicara dan bahasa. Terdapat berbagai macam pemeriksaan yang saling melengkapi satu dengan lainnya untuk menentukan adanya gangguan pendengaran," bebernya.
Dr Abla mengatakan, pemeriksaan elektrofisiologis berperan dalam memberikan data objektif mengenai ambang dengar pada anak atau pasien yang sulit diperiksa (difficult-to-test) dengan audiometri konvensional. Dalam beberapa tahun terakhir telah berkembang sebuah teknik pemeriksaan pendengaran objektif yang dapat menentukan ambang dengar pada frekuensi tertentu secara spesifik, yaitu ASSR. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan ambang dengar dengan teknik ASSR ini lebih cepat karena dapat secara simultan memeriksa empat frekuensi masing-masing pada kedua telinga.
"ASSR dapat memberikan informasi frekuensi spesifik dibandingkan click
ABR yang telah lebih dulu dikenal luas," katanya.
Lanjutnya, pemeriksaan ASSR tidak dipengaruhi oleh soundfield speaker atau hearing aid amplifier karena respon pada ASSR sifatnya steady-state dan stimulusnya simultan, sehingga ASSR dapat digunakan untuk mendiagnosa ambang dengar demi kepentingan pemasangan alat bantu dengar dan pada pasien yang direncanakan implan koklea. Kelemahan pemeriksaan ASSR ini adalah tidak dapat menentukan lokasi lesi, sehingga ASSR tidak dapat dipisahkan dengan pemeriksaan BERA.
"Untuk di Sumatera, alat ini hanya ada di rumah sakit RSMH, Palembang," ungkapnya.
Lebih jauh ia mengatakan, ASSR adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran yang bersifat objektif selain timpanometri, OAE dan BERA. ASSR merupakan pemeriksaan audiometri yang objektif. Pendengaran berfungsi baik bila dengan rangsang suara akan menghasilkan impuls elektrik oleh koklea dan juga sistem saraf gabungan.
Sehingga tes ASSR dan BERA dikerjakan untuk menilai secara objektif impuls elektrik akibat rangsang suara. ASSR dan BERA merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi pendengaran secara objektif tanpa melihat respon penderita. Dengan alasan inilah ASSR dan BERA digunakan pada pasien yang tidak kooperatif, anak-anak, dan mendeteksi malingering.
Pemeriksaan ini dapat dengan cepat mendiagnosa derajat gangguan pendengaran pada anak-anak, dan pasien lain yang tidak kooperatif dengan audiometri. Pada pemeriksaan BERA saja kita hanya dapat mengetahui ukuran elektrofisika dari rangsang suara namun untuk derajat ketulian diperlukan ASSR. Pemeriksaan ASSR sama dengan BERA
yaitu dilakukan pemasangan elektroda yang dipasang pada kulit kepala dan mastoid.
Sehingga menciptakan suatu gelombang EEG dan dengan meratakan gelombang tersebut, terbentuklah suatu pola gelombang yang dikemukakan oleh Jewet (1971) dan diberi label I sampai dengan VII. Hasil dari penelitian Jewet ini kemudian dipetakan untuk melihat waktu relatif dari gelombang I sampai V yang kemudian dikenal sebagai masa laten dari masing-masing gelombang yang terdiri dari 5 gelombang yaitu; gelombang I : (Organ Corti), gelombang II : (Nucleus Kohlear), gelombang III (Oliva Superior), gelombang IV (inti Lemniskus Lateralis) dan gelombang V (Kolikulus Inferior).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/anak_20160813_090204.jpg)