Mutiara Ramadan
Berani Salah
INGATKAH kisah Nabi Yusuf As saat digoda seorang wanita yang sangat terkenal cantik lagi berada? Saat hanya berdua saja. Tak seorang pun berada di ant
Hj Izzah Zen Syukri
Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang/Dosen FKIP Universitas Sriwijaya
SRIPOKU.COM - INGATKAH kisah Nabi Yusuf As saat digoda seorang wanita yang sangat terkenal cantik lagi berada? Saat hanya berdua saja. Tak seorang pun berada di antara mereka, apa pun bisa terjadi. Inilah peluang besar bagi iblis untuk memenangkan perjuangannya menggoda anak manusia hingga kiamat. Nabi nan tampan dan dipuja banyak orang ini merasakan betapa "mata" Allah menyaksikan perbuatannya. Ia sangat takut akan azab Allah.
Berita Lainnya: Belajar dari Rembulan dan Mentari
Termaktublah kisah dan doanya dalam Alquran, "Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dia menutup pintu-pintu dan berkata, "Marilah mendekat kepadaku". Yusuf berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung," (Alquran surat Yusuf, ayat 23).
Di zaman Rasulullah SAW pun para sahabat sangat khawatir jika melakukan kesalahan. Mereka lebih mengutamakan kecintaan Allah daripada pandangan manusia. Mereka lebih mementingkan "tatap mata" Allah ketimbang mulut manis manusia. Mereka sangat yakin akan adanya hari pembalasan.
Sesuatu yang kontras justru terjadi saat ini. Manusia terbiasa berlomba dalam dosa dan kemaksiatan (naudzubillah). Korupsi sudah dianggap trendi. Ramai-ramai pejabat atau mantan pejabat "bersekolah" di KPK akibat ulah mereka memainkan uang negara. Para istri, para zuriyat, dan orang-orang sekitar pejabat ini mulanya sumringah. Kemana-mana berdandan gaya artis dunia. Perhiasan melebihi orang rata-rata. Kendaraan tak terhingga jumlahnya. Begitu duduk di depan meja pesakitan, entah kemana wajah yang dulu hepi-hepi saja pakai uang rakyat.
Korupsi berawal dari ketidakjujuran, Bung. Ilmu ini "telah diajarkan" secara sistematis sejak anak terdaftar sebagai siswa. Yang umurnya masih kurang, boleh masuk sekolah dengan pemalsuan tanggal lahir. Yang tak lulus sekolah favorit, bisa mulus menjadi siswa melalui kepiawaian melobi. Yang ketakutan dengan Ujian Nasional bisa bernafas lega karena ada pihak yang siap mengulurkan tangannya. Berani salah dianggap sudah lumrah.
Anak-anak kita terbiasa hidup pada zona nyaman. Mereka tidak memakai prinsip "berani salah" untuk hal-hal positif. Mereka lebih nyaman melakukan hal-hal yang standar. Mereka lebih suka mengkonsumsi daripada memproduksi. Hingga dewasa pun, kebiasaan ini mendarah daging.
Saat Thomas Alva Edison yang cenderung berperilaku out of the box, gurunya merasa riskan. Edison dianggap bodoh. Ibunyalah yang mendidiknya memiliki keberanian untuk mencoba dan mencoba. Ibunyalah yang memotivasi bahwa salah itu bukan dosa. Kesalahan yang dibuat sebagai bagian dari proses berpikir dan belajar itu sah-sah saja.
Ilmuwan-ilmuwan lainnya pun biasa melakukan kesalahan. Imam Syafii tidak serta merta menghasilkan ilmu fikih tanpa melalui proses penelitian yang akurat, panjang, dan matang. Konsekuensinya, tidak sedikit Beliau melakukan kesalahan.
Di bulan Ramadan, adakah yang berani memperpanjang waktu sahur dan mempersingkat waktu berbuka? Adakah yang diam-diam makan dan minum lalu pura-pura lemas dan mengaku berpuasa? Untuk yang demikian itu, anak kecil pun tak mau. Ramadan sesungguhnya mendidik kita untuk berperilaku jujur. Pelatihan selama satu bulan itu mestinya dapat menempa seorang insan menjadi hamba yang khawatir berbuat salah karena segala perbuatan pasti tercatat di sisi Allah Ta'ala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/sungkeman-salaman-minta-maaf_20160617_104538.jpg)