Jembatan Ampera, Riwayatmu Dulu ….

Mulanya bernama Jembatan Soekarno. Ampera sendiri bermakna Amanat Penderitaan Rakyat.

Penulis: Aminudin | Editor: Sudarwan

ORANG menyebutnya Jembatan Ampera. Lapangan samping kanan dan kiri di Seberang Ulu kala itu se lalu digunakan untuk rapat-rapat umum perjuangan rakyat. Mulanya bernama Jembatan Soekarno. Ampera sendiri bermakna Amanat Penderitaan Rakyat.

Dinamakan Ampera, karena jembatan yang banyak disebut wong Palembang dengan jembatan Musi ini berperan penting dalam arus transportasi yang menghubungkan warga dari Seberang Ulu ke Seberang Ilir dan sebaliknya. Ribuan orang dan ratusan kendaraan memanfaatkan jembatan ini setiap hari, siang dan malam, tanpa henti-hentinya.

Sebenarnya, cita-cita dan keinginan untuk membuat jembatan penyeberangan di atas sungai Musi ini sudah ada sejak lebih dari tiga abad yang lalu. Tapi baru tahun 1962, tepatnya bulan April 1962, cita-cita tersebut bisa terwujud, setelah Presiden Soekarno memerintahkan pembangunannya denga dana pampasan perang.

Terkabulnya cita-cita masyarakat Palembang waktu itu tidaklah semudah kita membalikkan telapak ta ngan. Banyak pengorbanan dan dilewati dengan gigihnya perjuangan, baru secara resmi dipergunakan pada tahun 1964.

Luas Jembatan Ampera 400,6 Km2, panjang 1.177 meter dan lebar 22 meter. Tinggi di atas permukaan air 11,50 meter. Panjang bagian tengahnya 71,90 meter, lebar 22 meter dengan berat bagian ini 944 ton, dapat diangkat dengan kecepatan 10 meter per menit. Menara pengangkatnya berdiri tegak dengan tinggi dari tanah 63 meter, dua buah yang berjarak antara keduanya 75 meter.

Bila jembatan ini diangkat maka jalan bebas lintas untuk kapal yang lalu di bawahnya selebar 60 meter, sedangkan tinggi maksimum 44,50 meter. Jika tidak diangkat tinggi kapal yang boleh lewat 9 meter.

Karena hanya satu-satunya jembatan kala itu, sehingga arus lalu lintas sangat padat, maka pada tahun 1970-an, bagian tengah Jembatan Ampera tidak difungsikan lagi. Sebab, dengan perhitungan angka 10 meter per unit untuk me ngangkat bagian tengah jembatan, berarti memakan waktu sedikitnya 30 menit per satu kapal yang lewat.

Jika hal ini terus berlanjut, maka kendaraan yang antrean di kedua bagian jalan, setidaknya 200 unit mo bil di Sebelah Ulu dan 200 unit di Seberang Ilir, belum termasuk motor. Bila satu moil memakan ruang tiga meter, maka jalan yang digunakan untuk antrean mobil menjadi 200 x 3 meter, berarti 600 meter di bagian lir dan 600 meter lagi di bagian Ulu.

Renovasi terus dilakukan hingga kini. Trotoar di atas jembatan diperlebar, dihiasi aneka bunga dan sorot lampu yang menawan hati di kala malam hari. Kanan dan kiri jembatan di Sebelah Ulu sudah tertata rapi pasca dibangunnya turap dan jalan setapak serta rumah rakit.

Sedangkan di Seberang Ilir, ada bangunan megah Pasar 16 Ilir, Taman Wisata BKB, dermaga dan resto ran terapung. ada BKB. Dari dermaga ini anda bisa menumpang kapal motor mengelilingi perairan Mu si,, di antaranya ke Pulau Kemaro dan PT Pusri.

Tak jauh dari BKB, setiap malam minggu, di pelataran Museum SMB II digelar pertunjukan aneka seni da ri para seniman daerah ini. Dan Maret nanti, di Jembatan Ampera ini akan dihelat non bareng gerhana matahari.

(Sumber : Petunjuk Kota Palembang oleh Jalaluddin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved