Listiawati Divonis Jantung Bocor

Namun karena anaknya hanya menjadi peserta BPJS kelas 3, sehingga untuk mendapatkan pelayanan operasi cangkok jantung tidak bisa diklaim.

Listiawati Divonis Jantung Bocor
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Tampak pendeirita jantung boicor Listiawati (tengah) bersama kedua orang tuanya.

SRIPOKU.COM, MUARAENIM--- Bak ungkapan lama bahwa "Orang Miskin Dilarang Sakit". Mungkin inilah yang tengah dialami Listiawati (22) warga Dusun II, RT 006/002, Desa Keban Agung, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muaraenim, Selasa (1/12/2015).

Ia divonis menderita penyakit jantung bocor sejak enam tahun ketika duduk di kelas 2 SMP. Bahkan orang tuanya sudah berbagai daya dan upaya berusaha maksimal untuk menyembuhkan penyakit anaknya melalui fasilitas Jamkesmas dan BPJS, namun hal itu tidak bisa berbuat banyak.

Ketika disambangi dikediamannya, kondisi fisik remaja putri itu tampak kurus. Ia sepertinya sudah pasrah dengan penyakit yang dideritanya. Kedua orangtuanya, Sainul (55) ayahnya hanya seorang buruh lepas, sedangkan Ibunya Sri Umiarsih (43) hanya berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga.

"Kami sudah banting tulang, mencari uang namun hasilnya sedikit," ujar Sainul.

Dikatakan Sainul, Ia mengaku telah beberapakali mengajukan permohon pengobatan anaknya baik melalui Dinas Sosial Muaraenim, CSR PT Bukit Asam, Basnaz Bukit Asam, Jamkesmas dan BPJS Kesehatan. Dan dari hasil diagnosa dokter di Rumah Sakit dr HM Husein Palembang, anaknya dideteksi menderita penyakit jantung bocor.

Dan untuk pengobatan harus dilakukan pencangkokan jantung baru yang dilakukan di Jakarta. Karena untuk berobat ke Jakarta tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika biaya pengobatan ditanggung, pastinya pihaknya juga membutuhkan ongkos selama berada di Rumah Sakit di Jakarta.

Karena tidak ada biaya, selama enam tahun terakhir ini dirinya hanya melakukan pengobatan jalan saja.
Pihaknya, lanjut Sainul, sudah berupaya melakukan pengobatan putrinya yang dibantu sebesar Rp 4 juta rupiah, dari Dinas Sosial Muaraenim.

Ia disarankan membuat rujukan ke BPJS Kesehatan, namun karena anaknya hanya menjadi peserta BPJS kelas 3, sehingga untuk mendapatkan pelayanan operasi cangkok jantung tidak bisa diklaim. Kami hanya ditanggung sarana pengobatan saja dari RS Muaraenim dan Palembang.

Dan selama di Palembang, pihaknya juga dibantu oleh pihak Puskesmas Tanjungenim dalam hal urusan transport dan administrasi untuk pengobatan di Muaraenim dan Palembang selama tiga minggu dan hasilnya harus operasi cangkok jantung.

"Anak saya harus operasi cangkok jantung di Jakarta, karena kami sudah tidak punya apa apa lagi jadi hingga saat ini hanya diberi obat penahan saja," ujarnya.

Sementara Listiawati menceritakan awal mula sakitnya terjadi sejak tahun 2009 lalu ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Sakitnya terasa sekali di sendi – sendi tulangnya sehingga selama enam bulan tidak bisa berjalan, jantung terus bedebar – debar, tangan dan badan sering berkeringatan serta kalau kambuh badan terasa sakit.

Penyakit ini mulai terasa sejak naik ke kelas 3 SMP hingga kelas 1 SMK sampai saat ini, bahkan ia pernah masuk ICU RSUD HM Rabain Muaraenim selama tiga hari tanpa sadar, dan sejak itulah ia di vonis penyakit jantung.

Dan sejak itu, dirinya terpaksa harus berhenti sekolah sebab tubuhnya terasa capek, sedangkan jika berobat orangtuanya yang hanya buruh lepas tentu tidak akan mampu jika harus terus menerus membawanya ke rumah sakit.

"Saya berharap ada dermawan yang membantunya untuk membiayai operasi cangkok jantung, sehingga ia bisa sekolah lagi dan tidak menyusahkan kedua orangtuanya lagi," katanya lirih menahan sakit.

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved