Ini Rahasia Pembangkit Energi Tubuh

Kelebihan cadangan energi tubuh yang 72,5 persen ini disebut orang dengan istilah tenaga dalam

Penulis: Aminudin | Editor: Sudarwan

BAGI manusia umumnya energi yang dipakai untuk keperluan sehari-hari dalam hidupnya cuma sekitar 2,5 persen dari besar energi yang tersimpan dalam tubuhnya.

Kelebihan cadangan energi tubuh yang 72,5 persen ini disebut orang dengan istilah tenaga dalam.

Istilah yang digunakan orang untuk energi (energy) ini berbeda-beda, walau maksudnya sama.

Misal, orang Cina (kungfu) menyebutnya ‘Chi’, orang Jepang (jujitsu, akido, dll) menyebutnya ‘Khi/Reiki’, orang India (yoga) menyebutnya ‘Prana/Kundalini’, dan lain-lain.

Salah satu bukti dari potensi cadangan energi tubuh manusia yang luar biasa besarnya adalah banyaknya terjadi kasus “Spontaneous Human Combustion” (SHC). SHC adalah tubuh manusia tiba-tiba terbakar hebat tanpa tersisa lagi.

Sdangkan faktor pemicunya diduga ada dalam tubuh manusia itu sendiri.

Pertanyaanya, kenapa cadangan energi tubuh yang sangat besar ini tidak bisa digunakan denagn leluasa, kecuali dalam keadaan tertentu dan sifatnya pun hanya sementara?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita bahas bersama-sama empat hal yang berkaitan dengan pembangkitan cadangan energi tubuh manusia, yaitu:

1. Optimalisasi Oksigen (02)

Jika 02 yang disuplai dari paru-paru dan dialirkan ke dalam darah bereaksi dengan ATP akan memecah jadi ADP dan melepas energi sebagai hasil reaksi.

Hal inilah yang dimanfaatkan kalangan persilatan untuk menghasilkan energi tubuh yang lebih banyak dari yang normal.

Caranya dengan mengoptimalkan daya reaksi 02 dengan ATP supaya reaksi ini bisa bisa menghasilkan energi yang lebih banyak dari yang normal.

Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengurangi pasokan 02 dari jumlah kapasitas yang biasanya, sehingga akan memacu kerja ATP dan protein-protein yang terlibat untuk memproduksi energi yang lebih banyak.

Perumpamaannya seperti seorang karyawan yang dikurangi gajinya oleh sang atasan, sehingga gaji yang diperoleh tidak akan cukup unuk membiayai diri dan keluarganya.

Ia harus bekerja lebih keras lagi (kerja lembur, kerja sampingan, dll) agar bisa mendapatkan uang yang sama atau bahkan lebih banyak lagi dari besar gajinya semula, dengan demikian uang yang dihasilkan lebih bahyak dari semula.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved