Breaking News:

Perbukitan di Lahat Gundul, Areal Sawah di Dua Desa Kering

Diakui Aswari, gundulnya perbukitan dipastikan berdampak kepada pengurangan volume air.

ISTIMEWA
Areal perbukitan yang menjadi sumber mata air yang mengaliri persawahan di Lahat. 

SRIPOKU.COM, LAHAT - Bupati Lahat, H Saifudin Aswari Riva'I, SE akan menurunkan petugas Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lahat, untuk melihat kondisi sekitar 40 hektar lahan sawah di Desa Muara Gula dan Tanjung Bulan, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, yang saat ini kekeringan, dampak gundulnya areal perbukitan di kawasan tersebut.

"Ya kita sudah mendapat informasi itu dan dalam waktu dekat kita akan turunkan tim sehingga bisa mencarikan solusi bagi masyarakat petani di kawasan tersebut," terang Aswari, Rabu (11/11/2015).

Diakui Aswari, gundulnya perbukitan dipastikan berdampak kepada pengurangan volume air.

Apalagi dalam beberapa bulan terakhir kemarau melanda Kabupaten lahat disertai pembakaran hutan.

Untuk itu Aswari menegaskan kepada masyarakat agar tidak lagi melakukan perambahan hutan apalagi hingga membakar yang berdampak luas.

Aswari meminta kepada petani padi yang mengalami kekeringan melaporkan ke Kades, dilanjutkan ke camat dan camat menindaklanjutinya ke Dishutbun.

"Masyarakat jangan merambah hutan lindung, apalagi ini sumber mata air persawahan," tegasnya.

Sementara itu, sumber mata air irigasi di Desa Muara Gula dan Tanjung Bulan, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat yang selama ini berasal dari wilayah hutan larangan Bukit Runcing mengering.

Hal itu terjadi lantaran perbukitan yang menjadi kawasan hutan lindung tersebut sudah gundul, akibat aktivitas perambahan perkebunan kopi oleh warga.

"Sawah kami kekurangan air. Volume air terus berkurang akibat areal perbukitan banyak yang gundul," ungkap H Derumin (72), warga Desa Muara Gula, juga pemilik lahan sawah.

Menurutnya berbagai upaya agar air yang berasal dari perbukitan kembali mengalir terus dilakukan warga setempat.

Bahkan, ungkap Derumin, ia sengaja datang dari desanya ke Kota Lahat untuk bercerita kepada media, unsur tripika Kecamatan Kota Agung telah turun, termasuk Bagian Hukum Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel telah melakukan sosialisasi atas perambahan hutan lindung.

Namun jumlah perambah bukannya berkurang, bahkan makin hari terus bertambah. Derumin mencatat, tidak kurang 45 orang yang berasal dari desa sekitar kawasan hutan telah membuka kawasan hutan itu.

"Seumur-umur baru sekali ini sawah kami kekeringan. Kami harap pemerintah daerah turun tangan, bukan saja menyangkut nasib kami pemilik lahan sawah, tapi yang dibuka itu hutan lindung," ujarnya.

Penulis: Ehdi Amin
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved