Sering Diam Tanda Anak Galau
si anak itu boleh jadi ada kegalauan di benak dan batinya yang membuat dirinya lebih memutuskan untuk berdiam diri.
Penulis: Refli Permana | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM -- Dalam satu Sekolah Dasar (SD), sering kali dijumpai beberapa anak yang banyak diam dan memilih seorang diri.
Selain kemungkinan sifat si anak yang pemalu, kebisuan dan tidak aktifnya si anak itu boleh jadi ada kegalauan di benak dan batinya yang membuat dirinya lebih memutuskan untuk berdiam diri.
Dikatakan salah satu psikolog di Palembang, Muhammad Uyun, anak yang banyak diam pada umumnya memang sifat si anak yang pemalu. Namun, selain itu, si anak memiliki kegalauan yang membuat dirinya canggung untuk bergaul dengan teman di sekolahnya.
"Meski dirinya aktif di rumah, entah itu aktif bicara atau aktif bergerak, si anak tidak menutup kemungkinan akan banyak diam jika berada di sekolah. Ini dikarenakan adanya perbedaan lingkungan yang membuat dirinya harus beradaptasi di lingkungan yang berbeda," kata Uyun, yang dihubungi melalui ponselnya Selasa (3/11).
Perbedaan lingkungan, jelas Uyun, salah satunya bisa dilihat dari bahasa. Jika di dalam rumahnya si anak bekomunikasi dengan orangtua menggunakan bahasa daerah, sedangkan di sekolah diharuskan menggunakan bahasa Indonesia, maka dirinya yang belum terbiasa berujar atau mendengarkan bahasa yang baru merasa canggung untuk berkomunikasi.
Ia takut apa yang nantinya akan disampaikan tidak dimengerti oleh lawan bicara, dan begitu juga sebaliknya.
Selain faktor perbedaan bahasa, Uyun melanjutkan, faktor prestasi di sekolah juga bisa membuat seorang anak lebih banyak diam ketimbang berinteraksi dengan teman di sekolah. Ia merasa, nilai pelajaran di sekolah yang dicapai lebih buruk ketimbang nilai teman-temannya.
Atau, nilai yang ia dapat tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan dari orangtua. Karena belum bisa mengutarakan dilema tersebut, anak biasanya akan merefleksikan dengan berdiam diri.
"Beda dengan yang sudah tingkat remaja atau dewasa, anak belum bisa membuat suatu kesimpulan atau menyampaikan apa yang ia pikirkan kepada orang lain, termasuk kepada orangtua atau saudara-saudaranya. Jadi, anak yang sering diam bukan karena pikiranya yang kosong, namun ada sesuatu yang tidak bisa ia sampaikan," kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Palembang ini.
Solusi untuk anak yang seperti ini, Uyun mengatakan, datang dari orangtua dan guru si anak di sekolah. Untuk orangtua, tidak ada salahnya sesekali mencoba berkomunikasi dengan anaknya menggunakan bahasa yang didengar anaknya di sekolah.
Setidaknya, secara perlahan, si anak bisa mengatakan dan mengerti dari bahasa tersebut. Selain itu, orangtua juga sebaiknya sedikit menerapkan cara pergaulan yang dilihat anaknya di sekolah untuk sesekali diterapkan di dalam rumah.
"Sedangkan untuk guru, jika melihat ada muridnya yang lebih banyak diam, sebaiknya dia berkomunikasi dengan anak tersebut dengan baik-baik. Guru juga bisa membantu anak ini untuk berkenalan dengan teman di sekolah. Jika ada perbedaan bahasa, bisa mengajari anak tersebut dengan bahasa yang sering ia dengar di sekola," kata Uyun.(refly permana)