Eksklusif Sriwijaya Post

Warga Jalur 30 Tahun Minum Air Hujan (+VIDEO)

Warga Jalur biasa menampung air hujan di wadah besar yang mereka sebut gentong.

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Sugih Mulyono

SRIPOKU.COM, BANYUASIN – “Kami tidak tahu air hujan itu mengandung apa, dan baik dikonsumsi atau tidak. Dari dulu itulah adanya, sumber kehidupan kami dari air hujan. Walaupun kabarnya bisa mempercepat pengeroposan tulang,” ungkap Umi Nasiroh (45), warga Desa Margomulyo Jalur 16 Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Rabu (23/9/2015).

Umi merupakan satu di antara ratuan orang yang tinggal di Jalur. Mereka memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum dan memasak. Daerah yang letak geografisnya berada di pesisiran Banyuasin ini, menjadikan air hujan sebagai satu-satunya sumber pokok kehidupan warga.

Beberapa sungai di kawasan Jalur tak bisa dikonsumsi karena sudah bercampur air laut. Bahkan mengandung bahan karat yang cukup kuat, ditambah airnya yang sudah berwarna. Menurut Umi, ia dan keluarga lain di Jalur sudah hidup seperti itu sejak 30 tahun lalu.

Ibu beranak tiga ini mengatakan, air sungai atau sumur bor tak bisa dikonsumsi karena kualitasnya yang buruk. Kondisinya sudah begitu sejak ia dan warga lainnya pertama kali datang untuk bertransmigrasi.

“Dari dulu airnya asin dan berkarat. Kalau mencuci pakaian berwarna putih, seragam sekolah anak-anak contohnya, bukan menjadi bersih tapi makin kotor karena warnanya berubah menjadi kekuningan. Kalau dipakai untuk mandi, badan serasa makin lengket,” terangnya.

Gentong milik warga jalur

Dua orang bocah menatap tong penampung air hujan yang kosong di Desa Air Sugihan akibat mism kemarau yang panjang, Rabu (23/9). Sudah sejak 30 tahun Warga Air Sugihan menkonsumsi air hujan. (SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA)

Warga Jalur biasa menampung air hujan di wadah besar yang mereka sebut gentong. Air dari atap rumah dialiri ke gentong itu. Satu gentong bisa menampung air untuk kebutuhan berminggu, hanya jika digunakan berhemat dan sesuai skala prioritas.

“Bisa cukup untuk dua bulan,” sebut Umi. Tinggi gentong yang terbuat dari semen itu mencapai hampir dua meter, berdiameter pelukan tiga orang dewasa. Sebelum mengkonsumsi air hujan, warga memang merebusnya hingga mendidih. Alasannya hanya untuk membunuh kuman atau bakteri yang terkandung di dalam air.

Tapi tak selamanya warga di Jalur mendapat air hujan. Pada musim kemarau seperti sekarang, mereka hanya memanfaatkan air yang mengendap di gentong. Bagi keluarga yang memiliki uang lebih, mereka bisa membeli air galonan.

Halaman
12
Penulis: Sugih Mulyono
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved