Aksi Komunitas Anak Muda PALI Ini Patut Dicontoh

Aksi anak muda Kabupaten PALI, yang tergabung dalam Komunitas Pelorism, patut diacungi jempol dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi.

Penulis: Ardani Zuhri | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Tampak rumah Mbah Jumar yang sudah dibedahi anak-anak Pelorism PALI. 

SRIPOKU.COM, PALI--- Aksi anak muda Kabupaten PALI, yang tergabung dalam Komunitas Pelorism, meski baru berusia jagung, namun patut diacungi jempol dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi para anak-anak muda di Indonesia.

Mulai dari kegiatan pentas seni dan budaya serta sosial lainnya, kini mereka secara gotong royong melakukan kegiatan bedah rumah sesuai kemampuan. Dengan bermodalkan semangat dan kemauan serta kerja keras, meski kecil, namun sudah bisa memberikan manfaat bagi masyarakat terutama yang membutuhkan.

Salah satu, sasaran bedah rumah mereka yakni bedah rumah mbah Jumar. Meski lahir pada tahun 1945, bertepatan dengan kelahiran negara Republik Indonesia, namun mbah Jumar (70) belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Rumahnya di Talang Puyang, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, hanya berdinding gedek (anyaman Bambu) dan berlantai tanah. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia terpaksa ‎hanya berharap dari belas kasihan para tetangga.

Semenjak ditinggal anak dan istrinya pergi untuk selama-lamanya sekitar 10 tahun yang lalu, Mbah Jumar hanya hidup sebatang kara. Di usianya yang telah senja dan tubuhnya yang renta, ia terpaksa mempertahankan hidupnya hanya berharap belas kasih dan uluran para tetangga dan dermawan.

Bahkan tidak jarang, ia harus menahan rasa lapar karena tidak ada yang bisa dimakan. Rumahnya berukuran 4 x 5 meter yang berdinding gedek (anyaman bambu), berlantai tanah dan beratapkan seng tua yang telah dimakan usia selama puluhan tahun menemaninya bertahan dari panas dan hujan.

Bahkan jika musim hujan, tempat tinggalnya selalu basah karena air masuk melalui lubang-lubang seng yang sudah termakan karat. Belum ditambah, dinding rumah yang banyak bolong sehingga jika malam hari udara menusuk sudah biasa dialaminya.

Apalagi kasur tempat tidurnya sudah tidak layak karena tipis dan bau sehingga sangat tidak layak bagi kesehatan.

Dan jika melihat seisi rumahnya, nyaris tidak ada perabotan rumah tangga. Di bagian dapur tidak ada kompor minyak apalagi gas elpiji, ia hanya menggunakan kayu untuk memasak. Padahal hanya berjarak 100 meter dari rumahnya ada peralatan pumping minyak sebagai pertanda ada sumur minyak bumi.

"Saya tidak pernah masak. Paling merebus air minum saja" ujar Mbah Jurman lemah.

Ketua Komunitas Pelorism, Rindu Dewanto, mengatakan bahwa mereka melakukan kegiatan bedah rumah dengan cara bergotong-royong selama tiga hari berturut-turut. Meski keterampilan dan kemampuan mereka terbatas, namun setidaknya mereka bisa berbuat dan bisa memerdekakan mbah Jumar.

Aksi ini adalah aksi ketiga mereka setelah menggelar pentas seni dan bagi susu gratis.

"Pelorism itu berasal dari kata pelor. Artinya melesat lurus tajam dan tepat sasaran. Kita ingin seperti pelor yang mempunyai tujuan yang jelas dan hasil nyata" timpal Abidah El Khaliqy, koordinator Pelorism.

Mbah Jumar, mengaku setelah puluhan tahun hidup sebatang kara, saat ini, ia merasa sangat gembira dan semangat kembali menjalani sisa hidup yang ada.

"Saya senang dan haru. Biar saya hidup sendiri, sekarang saya merasa punya banyak anak. Terima kasih anak-anak yang mau membantu. Semoga nantinya bisa menjadi anak yang mulia," kata mbah Jumar kepada komunitas Pelorism saat penyerahan kembali rumah tersebut.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved