Suami atau Istri Hiperseks, Dikatakan Hebat? Kenali Ciri-Cirinya

para ahli menyarankan setiap orang yang mengalami ciri-ciri hiperseks di bawah ini untuk segera memeriksakan diri ke dokter

Editor: Darwin Sepriansyah
ist
ilustrasi 

SRIPOKU.COM--Sex adalah sebuah aktivitas pra-sejarah. Sudah ada sejak jaman dahulu kala, sex juga yang membuat kita saat ini ada. Aktivitas seksual membutuhkan tenaga, kontraksi otot, menguras stamina, serta menyita waktu.

Sex ibarat sedang melakukan sebuah aktivitas atau pekerjaan. Sama seperti bermain bola, tenis, basket, bersepeda, sex juga meningkatkan denyut nadi dan kerja jantung. Sex itu melelahkan. Sebagaimana semua aktivitas, pasti kita menginginkan sebuah “result” atau hasil agar mau, bersedia melakukan aktivitas tersebut.

Anda berlatih fitnes agar bugar, anda bekerja agar mendapat uang, anda membantu orang lain agar moral anda tidak kelaparan, anda belajar agar pandai atau nilai anda sempurna. Intinya, semua hal harus menawarkan sesuatu agar manusia mau melakukannya.

Apa yang ditawarkan sex? Setelah anda mengkontraksikan tubuh anda, membuat lelah otot-otot anda, datanglah ejakulasi atau orgasme, datanglah kenikmatan tiada tara yang sebenarnya adalah sebuah peristiwa kimia, yaitu endorphin release, opioid secretion.

Zat yang mirip morphin (narkotik) membanjiri otak anda, menimbulkan rasa bahagia tak terkira. Rasa nikmat yang membuat anda kangen, dan ingin merasakannya lagi. Lagi dan lagi.

Lantas, kapan aktifitas suami-istri ini dikatakan sebagai hiperseksual? Istilah hiperseksual (hypersex) menunjukkan suatu kelainan seksual berupa dorongan seksual yang sangat tinggi dan menetap.

Hiperseksual memiliki beberapa gambaran sebagai berikut: hubungan seksual merupakan kebutuhan yang tidak pernah terpuaskan, sering dilakukan di antara kesibukan; semata-mata ingin mengejar orgasme yang sering; hubungan seksual dilakukan tanpa emosi, hanya untuk kenikmatannya sendiri.

Biasanya seorang hiperseksual melakukan hubungan dengan banyak pasangan karena pasangan tetapnya tidak selalu bersedia melakukan hubungan dengan frekuensi sangat sering.

Namun bukan berarti kalau istri tidak mampu memenuhi permintaan suami, bukan berarti suami hiperseksual. Sebaliknya, kalau suami tidak mampu memenuhi permintaan istri untuk sering melakukan hubungan seksual, bukan berarti istri hiperseks. 

Belum ada batasan jelas antara hiperseks dengan gairah seks tinggi yang normal. Tetapi para ahli menyarankan setiap orang yang mengalami ciri-ciri hiperseks di bawah ini untuk segera memeriksakan diri ke dokter

  1. Berselingkuh atau memiliki parner seks di luar lembaga pernikahan yang dijalani
  2. Terobsesi berlebihan terhadap seks, seolah-olah tidak bisa dikendalikan lagi oleh penderita
  3. Hobi melakukan masturbasi berlebihan'
  4. Menganggap pasangan sebagai objek seks
  5. Memiliki kecenderungan berganti-ganti pasangan seks
  6. Kadang melakukan aktifitas seks tidak normal seperti menyakiti pasangan
  7. Melakukan aktifitas seks berisiko tanpa peduli orang lain atau kesehatan diri sendiri
  8. Hobi membuka situs porno di internet adalah juga ciri-ciri hiperseks
  9. Menjadikan seks sebagai pelampiasan terhadap masalah yang dihadapi seperti kesepian dan depresi
  10. Aktifitas seks yang dijalani telah mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan.

Jika anda memiliki minimal tiga dari 10 ciri-ciri hiperseks di atas, sebaiknya kunjungi dokter untuk memeriksakan diri. Anda bisa ke dokter umum atau ke psikiater. Dokter akan berusaha mendiagnosa dan mencari penyebab gangguan seks yang ada derita.

Sementara dari sudut pandang Islam juga memberikan rambu-rambu, perihal hubungan suami-istri ini. Ustadz Ammi Nur Baits, Dewan Pembina Konsultasisyariah.com mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan kepada kaum muslimin untuk menyalurkan syahwatnya dengan cara halal. Karena ini merupakan cara paling ampuh, agar manusia tidak menginginkan sesuatu yang haram.

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seorang lelaki melihat wanita cantik yang menarik hatinya, hendaknya dia segera mendatangi istrinya. Karena apa yang ada di istrinya sama seperti yang ada di wanita itu.” (HR. Ad-Darimi 2270 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Karena alasan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hubungan badan yang dilakukan pasangan suami istri, sebagai amal soleh yang bernilai sedekah. Sebagaimana ketika itu disalurkan dengan cara yang haram, bisa bernilai dosa.

Halaman 1/2
Tags
sehat
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved