Harga Sayuran di Lubuklinggau Kembali Normal, Pembeli Malah Sepi
Kendati dagangannya terkadang tak habis terjual, diakui Fatimah bahwa dirinya bakal tetap memaksakan berjualan, guna memenuhi kebutuhan.
SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU -- Sempat mengalami kenaikan harga akibat kekurangan stok dari sejumlah daerah pemasok, seperti Curup, Kabupaten Rejang Lebong.
Kini harga sayuran di beberapa pasar tradisional di Kota Lubuklinggau terpantau mulai kembali normal.
Fatimah (45), salah satu penjual sayuran di Pasar Bukit Sulap, Kota Lubuklinggau mengungkapkan bahwa sejak sepekan pasca Hari Raya Idul Fitri 1436 H beberapa waktu lalu, harga sayuran sempat melambung tinggi dan mengakibatkan sejumlah langganannya mengeluh.
Bahkan, tak hanya menjadi keluhan para pengunjung pasar. Kondisi tersebut pun, sempat membuat sejumlah rekan seprofesinya memutuskan untuk libur berjualan.
"Kalau kita jual mahal, banyak yang enggan membeli. Padahal, mau diapakan lagi, sebab kita ambil dari pengepul kan memang tinggi juga harganya, dikarenakan stok dari Curup sedikit. Kawan-kawan saja malah banyak yang tidak jualan karena takut tidak laku," ungkapnya, Minggu (26/7/2015).
Namun, meski kini harga mulai berangsur normal, diakui ibu dua orang anak ini, jumlah pembeli masih tergolong sepi dibandingkan hari-hari biasa.
"Mungkin karena masih banyak warga yang libur di luar kota. Jadi, sampai sekarang masih sepi saja pembeli yang datang," ujarnya.
Kendati dagangannya terkadang tak habis terjual, diakui Fatimah bahwa dirinya bakal tetap memaksakan berjualan, guna memenuhi kebutuhan sejumlah langganannya yang didominasi pemilik usaha rumah makan.
"Kalau harga sekarang sudah normal semua, contohnya seperti sawi yang sempat naik Rp. 9000 per kilogram, sekarang sudah kembali seperti harga biasa, yakni Rp. 5000 sampai Rp. 6000 per kilogram," jelasnya.
Diakui Fatimah, kondisi pasar sepi pasca lebaran merupakan kebiasaan yang terjadi setiap tahun.
Dirinya pun tidak merasa kaget meski pendapatan yang ia peroleh menurun drastis dibanding hari-hari biasa.
"Nggak kaget juga, karena memang kondisi seperti ini tiap tahun terjadi. Biasanya dua minggu setelah lebaran baru kembali ramai," kata dia.
Sementara itu, Eva (40), warga Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II mengaku senang dengan penurunan harga sayur yang mulai terjadi beberapa hari belakangan.
"Hampir semua kebutuhan rumah tangga naik setelah lebaran, mulai dari gas ukuran 3 kilogram yang dijual di warung, gula, beras, bahkan juga termasuk sayur mayur.
Tapi, mulai hari ini sudah mendingan harganya, sudah nggak terlalu mahal lagi," ungkapnya. (men/TS)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/sayuran-obral_20150716_120649.jpg)