Idul Fitri 2015
Tradisi Rantang-Rantangan Kesempatan Mertua Menilai Menantunya
Saling kirim rantang bukan hanya sekedar memberikan makanan khas lebaran kepada orang tua, tapi lebih dari itu.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Saling kirim rantang bukan hanya sekedar memberikan makanan khas lebaran kepada orang tua, tapi lebih dari itu.
Menurut Budayawan Palembang, Yudhie Syarofi, adat Sumatera Selatan, rantang-rantangan memiliki makna tersendiri bagi orang tua untuk anaknya, atau calon mantunya. Ketika seorang anak mantu atau calon mantu membawakan rantang, itu menjadi kesempatan orang tua untuk 'madik mantu' (menilai mantu).
"Jadi, dalam adat Sumsel itu ada istilah madik mantu. Setiap kali seorang anak mantu atau calon mantu membawakan rantang, dengan susun tiga menggunakan 'sena' (rantang terbuat dari rotan bersusun tiga) akan terbagi menjadi tiga makanan khas, delapan jam, maksubah dan engkak ketan," ujar Yudhie, Jumat (17/7/2015).
Prosesi madik mantu sendiri, dijelaskan Yudhi merupakan adat yang dahulu mengakar untuk menilai bagaimana prilaku dan sifat istri atau calon istri dari anak. Apakah mantu atau calon mantu tersebut bisa 'beluruh' (Mengurus) suami atau tidak.
"Kita tahu seperti kue delapan jam, kue basah yang dimasak selama delapan jam ini jika berhasil dibuat sangat membutuhkan kesabaran, dan takaran yang pas. Kalau tidak akan hangus, atau loyak. Nah dari sana dapat kelihatan sifat anak mantu tersebut," ucapnya.
Begitu juga dengan maksubah dan engkak ketan. Makanan khas itu memerlukan ketelitian dan kerajinan, tidak bisa ditinggal, tidak boleh lebih atau kurang takaran. Dari sana mertua melihat apakah sang istri dari anak bisa 'beluruh' atau tidak.
"Jadi, dalam tradisi Sumsel dahulu rantang-rantang bukan sekedar mengantar makanan. Tapi menjadi bagian menilai, bagian belajar dan memahami sifat seorang perempuan," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/yudhie-syarofi_20150717_120333.jpg)