Uniknya Ranah Minang, Tower Pembangkit Listrik Jadi Menara Masjid
Provinsi yang terletak di barat Pulau Sumatera, ini memiliki banyak kekhasan dan keunikan.
Penulis: Theresia | Editor: Eko Adiasaputro
Lalu, pada tahun 1912 hingga 1918, perusahaan tambang pun mengangkat pengawas dapur dari Belanda plus tiga penjaga untuk mengawasi distribusi makanan untuk pekerja tambang.
Namun, karena terjadi korupsi akhirnya cara distribusi makanan ini pun dihentikan. Dan, pada tahun 1918, perusahaan tambang memutuskan untuk membangun Kompleks Dapur Umum untuk memasak dan memenuhi
kebutuhan gizi pekerja tambang.
Kompleks Dapur Umum ini memiliki tiga tungku raksasa untuk menghasilkan uap panas dalam memasak nasi, lauk pauk dan air minum.
Nola Lestari (32), penjaga Kompleks Dapur Umum yang sejak tahun 2005 menjadi Museum Gudang Ransum.
"Saat itu, untuk memenuhi kebutuhan makan ribuan pekerja tambang dan Orang Rantai, sehari dapur umum memasak 65 pikul (3.900Kg) beras," katanya, ditemui Minggu (10/5/2015).
Untuk memasak nasi menggunakan periuk berdiameter 124 Cm sampai 134 Cm dan tinggi 60 Cm sampai 62 Cm. Sedangkan periuk lauk pauk atau sayur dan air minum berdiameter 148 Cm, tinggi 70 Cm.
Dapur umum memasak dengan menggunakan uap air yang dihasilkan dari pembakaran batubara dari tiga tungku besar sebagai pemanas.
Uap air dari tiga tungku besar yang dibuat oleh Rohdemdam PFK Essel Fabrik pada tahun 1894, kemudian dialirkan ke dapur dengan menggunakan tabung penghubung besar.
Di Museum Gudang Ransum, selain memiliki jenis-jenis periuk dan tungku raksasa, juga ada lesung penumbuk padi/beras raksasa yang terbuat dari kayu.

Juga ada Museum Etnologi yang menampilkan pakaian penganten adat Minang Kabau, Tionghoa, Batak, dan Jawa
yang mencerminkan di kota ini bermukim berbagai etnik sejak ratusan tahun lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kelok-sembilan_20150518_220501.jpg)