Terapis Muda Ini Mengaku Terjebak Prostitusi Terselubung
"Gue dibohongin, katanya mau diajak kerja di restoran jadi kasir. Tahu-tahunya jadi kerja di sini," kata Rini
SRIPOKU.COM, TANGERANG - Menjadi seorang tukang pijat atau yang biasa disebut terapis bukanlah pilihan pekerjaan yang Rini (20) inginkan saat mengadu nasib di Tangerang.
Diajak seorang teman, Rini yang awalnya bekerja sebagai sales promotion girl (SPG) di salah satu mal kini menyambung hidup dengan bekerja di salah satu tempat pijat dan refleksi di wilayah Kabupaten Tangerang.
"Gue dibohongin, katanya mau diajak kerja di restoran jadi kasir. Tahu-tahunya jadi kerja di sini," kata Rini kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2015).
Pekerjaan sebagai terapis sudah dilakoni oleh anak bungsu dari delapan bersaudara itu selama kurang lebih tiga tahun, yakni sejak dia berusia 17 tahun.
Pertama kali dikenalkan dengan pemilik salah satu tempat pijat di Tangerang, Rini mengeluh kepada temannya.
Dia menganggap teman perempuannya itu tidak memberikan apa yang dijanjikan pada awal kesepakatan mereka, yakni bekerja sebagai kasir di sebuah restoran.
Namun, Rini yang saat itu tidak mengerti terlanjur menanda tangani surat kontrak yang mengharuskan dia bekerja di tempat itu selama tiga tahun.
"Baru kerja sebulan dua bulan, tahu-tahu teman gue itu pergi. Dia sudah nipu gue mentah-mentah," terang Rini.
Tempat Rini bekerja adalah tempat pijat yang melarang adanya praktik prostitusi dalam bentuk apapun.
Di dalam ruang pijat ditempel tulisan agar tidak ada yang berbuat mesum dan jika ketahuan maka di luar tanggung jawab perusahaan tersebut.
Meski demikian, Rini mengaku menemukan hal berbeda. Rekan sesama terapis yang berjenis kelamin perempuan semua menuturkan bahwa mereka bisa memberikan servis lebih kepada pelanggan yang memintanya.
Servis itu pun dipatok dengan harga yang bervariasi, pada kisaran Rp 500.000 sampai Rp 950.000.
Para senior terapis di sana mengajarkan kepada Rini, dengan melakukan hal tersebut, maka penghasilan mereka bisa lebih banyak. Sebab, kontrak kerja dan sistem penggajian untuk terapis di sana dinilai tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Kita digaji berdasarkan berapa banyak tamu kita. Jadi kalau ada tamu, mereka bisa pilih kita lewat foto di buku. Dari satu tamu, kita dapat antara Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Kalau enggak ada tamu, ya nasib, enggak dapat apa-apa," jelas Rini.
Rata-rata untuk satu terapis di sana bisa melayani kurang lebih sepuluh tamu dalam seminggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/paha-psk_20150421_164701.jpg)