Warga Harus Jalan 5 Kilometer Cari Air Bersih

Selain kondisi cuaca panas mengakibatkan warga harus bermandikan keringat saat mengangkut air bersih.

Warga Harus Jalan 5 Kilometer Cari Air Bersih
SRIPOKU.COM/CANDRA OKTA DELLA
Salah satu warga berjalan kaki masuk ke dalam hutan tempat Sungai Suban untuk mandi dan mencuci pakaian, Minggu (21/9/2014). Akibat kemarau dan sumur-sumur kering di Desa Talang Keban Kecamatan Batang Hari Leko, Muba. 

SRIPOKU.COM, SEKAYU — Apa yang dirasakan warga Desa Talang Keban Kecamatan Batang Hari Leko sungguh sangat memprihatinkan. Dampak kemarau panjang sangat dirasakan warga, pasalnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ribuan jiwa terpaksa berjalan kaki atau mengunakan sepeda motor menumpuh jarak 5 Km ke dalam hutan menuju Sungai Suban yang kecil untuk mendapatkan sumber air bersih.

“Yah yang tak punya motor harus jalan kaki, kalau ada motor naik motor. Ini pun kami harus antre kalau tidak sungai suban yang kecil ini akan “butek” akibat banyak yang menggunakan, mau mandi saja sulit, sudah 3 bulan ini. Untuk mandi dan mencari air minum terpaksa nyari sumber air kehutan jaraknya sampe 5 Km, sebagian warga juga ada yang memanfaatkan air sungai untuk diminum, " ujar Indra, warga Talang Keban, saat dibincangi Sriwijaya Post, Minggu (21/9/2014).

Dikatakan Indra, dampak kemarau tahun ini memang sangat berbeda pada tahu tahun sebelumnya. Selain kondisi cuaca panas mengakibatkan warga harus bermandikan keringat saat mengangkut air bersih. Dilema warga sendiri juga terasa, dimana jika air tidak segera diambil bukan tidak mungkin sumber air bersih akan habis diambil oleh warga lainnya.

"Kita kasihan dengan anak-anak sekolah, bagaimana tidak jika orang tuanya tidak mengambil air maka besok harinya mereka sudah pasti tidak akan mandi saat berangkat kesekolah," katanya.

Untuk itu warga meminta agar pihak terkait dapat segera turun tangan dalam mengatasi krisis air didesa mereka, terlebih lagi saat ini kondisi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Randik, belum bisa memenuhi kebutuhan warga desa. Pasalnya bangunan boster baru selesai dibangun, pipa memang sudah ada namun sayannya belum bisa didistribusikan kerumah warga.

"Harapan kami kepada pemerintah agar segera turun kelokasi, cari solusi dan tolong ditangapi keluhan kami ini," harap Indra dengan nada lirih.

Sementara di Desa Bukit Selabu krisis air bersih juga menjadi dilema bagi warga. Kondisi desa yang berada pada letak geografis yang tinggi membuat ratusan sumur sudah empat bulan lalu mengalami kekeringan. Akibatnya, warga harus mencari sumber air sungai dan air galon utuk mandi, bahkan tak jarang dari mereka mengambil air sungai untuk mandi, mencuci serta minum.

Kondisi air sungai yang bewarna kuning harus mereka endapkan terlebih dulu, setelah kotoran air tersebut mengendap barulah air tersebut dimasak. "Tidak semua warga mampu minum air galon, orang kabanyakan seperti kami tidak sangup harus membeli air, terpaksa harus mengendapkan air sungai untuk diminum," ujar Leman, warga Bukit Selabu.

Penulis: Candra Okta Della
Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved