Sumsel Masih Berada di Puncak Musim Kemarau

Kondisi kemarau di Sumsel memang lebih lama dibanding kawasan lain di Pulau Sumatera.

Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Bulan Agustus hingga September nanti diprediksi Sumsel berada dipuncak kemarau. Kondisi ini berdampak minimnya hujan turun meski masih akan tetap turun hujan tapi dengan intensitas sangat rendah.

"Sesuai prakiraan cuaca Agustus-September Sumsel memasuki puncak kemarau sehingga beberapa hari belakangan tidak ada hujan turun," ujar Indra Purna Kasi Data dan Informasi BKMG Kelas II Kenten, Kamis (28/8/2014).

Kondisi kemarau di Sumsel memang lebih lama dibanding kawasan lain di Pulau Sumatera. Kondisi berbeda ini karena dipengaruhi letak geografis Sumsel dan juga tiupan angin laut yang menyebabkan Sumbagsel lebih lama mengalami kemarau dibanding Sumatera bagian tengah dan wilayah sekitarnya. Jika di kawasan Bengkulu, Padang dll akhir Agustus diperkirakan hujan sudah mulai mengguyur tapi Sumbagsel hujan diprediksi paling cepat akan turun di akhir September.

Selama berada dipuncak kemarau siklus tahun ini, akan tetap ada curah hujan yang sangat rendah dan hujan lokal karena pengaruh hembusan angin laut yang meyebabkan suhu dipermukaan air panas dan menguap menjadi awan. Hujan intensif yang turun beberapa pekan sebelumnya dikatakan Indra bukanlah awal musim hujan tapi memang hujan dimusim kemarau.

Hujan musim kemarau memiliki karakter hujan lokal yang tidak merata dengan intensitas ringan dan tersebar di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Meski saat ini Sumsel berada dipuncak kemarau tapi tidak sampai menyebabkan kabut asap menyelimuti kota karena jumlah hotspot yang terpantau memang minim. Meski dikatakaman minim tapi tetap harus diwaspadai keberadaanya karena saat ini kondisi kemarau membuat lahan gambut dan hutan kering sehingga rentan kebakaran.

Empat kabupaten kota yang menjadi fokus pemantauan yakni Ogan Ilir, Muba, Banyuasin, dan OKI menjadi pusat pantauan namun belakangan juga muncul fenomena hotspot baru yang terjadi di Muara Enim dan Musi Rawas. Keberadaan hotpsot ini diprediksi muncul karena aktivitas pembukaan lahan perkebunan dan pertanian yang dilakukan warga dengan cara membakar lahan gambut dan hutan. Oleh sebab itu warga dihimbau agar jangan membuka lahan dengan cara dibakar untuk menghindari kebakaran hutan dan lahan gambut.

"Kita minta pada warga silahkan membuka hutan dan sawah untuk berkebun tapi jangan dibakar karena berpotensi menyebabkan kebakaran hutan lebih luas dan juga menyebabkan kabut asap jika jumlah banyak," kata Indra. (TS)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved