Buah Simalakama di Sungai Lematang

Kegiatan dermaga batubara di hilir desa, diyakini akan berpengaruh langsung dengan pola hidup agraris warga.

Penulis: Sutrisman | Editor: Soegeng Haryadi

SRIPOKU.COM - Ujang (52), warga Desa Muaralematang, Kecamatang Sungairotan, Kabupaten Muaraenim (Sumatera Selatan), segera mengenali pohon Secang atau Sepang (Caesalpinia sappan) yang tumbuh liar di pinggiran desa terletak di bibir Sungai Musi. Diyakini pohon berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Air rebusan kayu Secang juga dikenal kayu Soka --termasuk pohon perdu, berwarna merah. Rebusan air nyaris tak berasa, diminum untuk mengobati diare, termasuk penyakit muntaber. Banyak khasiat lain, termasuk mengobati penyakit tumor.

Tak banyak lagi pohon Secang di sekitar desa, padahal sekitar tahun 80-an tumbuh liar bahkan dianggap gulma pengganggu karena pohonnya berduri tajam. Di kawasan semak di pinggir desa hanya terdapat jalan setapak dan tak lama lagi, akan segera tergusur.

"Jalan ini akan dibuka untuk menuju dermaga batubara, sebagian sudah dibebaskan," ujar Kepala Desa Muaralematang, Hamka (30).

Bahkan akses jalan utama truk pengangkut batubara, menuju dermaga dari hasil tambang kawasan Rambangdangku (Muaraenim), itu menimbun puluhan hektare sawah tadah hujan yang digarap warga. Desa yang terletak di delta Sungai Lematang dan Sungai Musi (sekitar 60 kilometer sebelah barat Palembang atau sekitar 120 menit melalui jalan darat), kini tak lagi terisolasi. Jalan setapak dari kota Kecamatan Sungairotan, telah berubah jalan beton, dan telah masuk dalam jaringan interkoneksi listrik Sumatera. Aktivitas di lokasi desa saat ini yang diyakini sudah berlangsung lebih dulu. Letak strategis muara Sungai Lematang (kelak menjadi nama permukiman sekarang ini), menjadi lokasi kegiatan ekonomi dan sekaligus lokasi persinggahan.

Kegiatan dermaga batubara di hilir desa, diyakini akan berpengaruh langsung dengan pola hidup agraris warga. Penduduk terus bertambah, sementara areal sawah bukan bertambah tetapi justru tergusur. Lokasi mencari ikan menjelang musim kering,
semakin langka.

Dermaga batubara ini bukan satu-satunya di kawasan ini, Di seberang desa, sebelah hulu di pinggiran Sungai Musi telah berdiri dermaga batu bara. Dermaga ini terhubung dengan kawasan tambang di Kabupaten Lahat, sepanjang 200 kilometer yangn dikerjakan PT Servo Lintas Raya (SLR) dan PT Energi Prima Indonesia (EPI), tak kunjung selesai.

Pihak perusahaan beralasan, musim penghujan dianggap dan faktor alam lain menjadi penyebab lambannya selesainya jalan khusus ini. Apalagi kawasan Desa Muaralematang setiap tahun menjadi langganan banjir. Ketinggian daerah ini berkisar 20 meter dari permukaan laut.

Dermaga yang berkapasitas 20 juta ton per tahun ini, diyakini akan memberikan peluang kerja bagi masyarakat sekitar seperti diutarakan Hamka. Namun, warga hadirnya kegiatan bisnis batubara ini semakin mempersempit lahan pertanian warga.

Menurut Kenedi Nurhan, asal Muaralematang dan kini bermukim di Jakarta, cerita tentang lebak-lebung sumber ikan bagi masyarakat segera berakhir. Aktivitas bisnis bongkat muat batubara akan berdampak langsung terhadap pola kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung lama.

Pencemaran debu dari aktivitas bongkar muat batubara, juga merupakan dampak langsung karena lokasi dermaga tak jauh dari permukiman penduduk. Setelah pohon Secang tergusur, warga disuguhi Simalakama.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved