Gantungkan Hidup dari Kelapa
Minyak kelapa yang selama ini digunakan untuk menggoreng makanan yang bahan bakunya dari kopra diproduksi di daerah tersebut.
Penulis: Yuliani | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sebagian besar masyarakat Banyuasin, khususnya daerah perairan di Sungsang bertahun-tahun menggantungkan hidup dari buah kelapa. Letak daerah yang memang tak jauh dari wilayah laut ini ditumbuhi subur pohon kelapa yang dengan sengaja ditanam di areal perkebunan.
Bahkan, minyak kelapa yang selama ini digunakan untuk menggoreng makanan yang bahan bakunya dari kopra diproduksi sebagian besar di daerah tersebut. Makanya sebagian besar masyarakatnya menjadi buruh kopra.
Uniknya, para buruh kopra tersebut melakukan aktivitasnya di pinggir jalan. Sehingga saat mulai memasuki kecamatan Tanjung Api-Api hingga Tanjung Lebo, tampak di kanan-kiri beberapa buruh kopra duduk dengan payung seadanya sambil mengupas kelapa. Tumpukan kelapa dan kepulan asap yang membakar tempurung kelapa menjadi pemandangan yang mudah dijumpai.
Dijelaskan Jenek (35), warga Jalan Harapan Baru Teluk Payau Kecamatan Tanjung Api-Api Banyuasin yang sehari-hari menjadi buruh kopra ini mengatakan, kopra ialah sebutan untuk kelapa yang dikupas dan dijemur lalu diproses untuk menjadi bahan baku minyak.
"Biasanya jika masih muda (dogan), suka dikirim ke Palembang atau di daerah lain. Kadang juga sengaja kelapanya ditunggu sampai tua, untuk bahan utama membuat minyak. Masyarakat di sini rata-rata menggantungkan hidup menjadi buruh kopra," ungkap ibu lima anak ini.
Jenek menambahkan, setiap buah Kelapa yang dicongkel dihargai Rp 1.500 per kilonya, "Rata-rata segitu. Namanya juga ambil upah harian, jadi penghasilannya setiap hari tidak menentu. Terkadang cuma dapat Rp 25ribu perhari. Tergantung dari berapa banyak kelapa yang dikupas," ujarnya.
Seorang buruh kopra lainnya, Heti (41) mengatakan kopra yang dihasilkan dari daerah tersebut sudah pasti bagus kualitas minyak yang akan dihasilkan. "Ya karena daging kelapanya tebal. Apalagi jika musim hujan," ucapnya.
Heti mengatakan, kelapa di daerah mereka dikelola oleh seorang toke bernama Efendi. "Dia (Efendi) yang mempekerjakan warga di sini. Setelah kelapa ini dikupas dan dijemur sampai kering, selanjutnya akan di bawa ke pabrik," ucap Heti sembari menunjuk sebuah pabrik tak jauh dari tempat ia mengupas kelapa.
Minimnya penghasilan dari kopra diakui Heti belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga. "Setidaknya pemerintah memperhatikan, komoditas kelapa kan sebagaian besar di daerah ini. Jadi pemerintah harus memberikan solusi atas kesulitan ekonomi buruh kopra di sini," ungkapnya.