Tips Mendapatkan Beasiswa Pascasarjana (1)

Melanjutkan studi di luar negeri bisa ditempuh dengan dana yang minim jika kita menerima dukungan dana

Tayang:
Editor: Bejoroy

Jika email pertama kita mendapat balasan dari profesor, kita dapat memulai untuk berdiskusi dengannya dalam email selanjutnya. Topik diskusi dapat kita ambil dari publikasi paper-nya. Dalam email tersebut, kita dapat memulai menggunakan nama belakangnya saja dalam salam pembuka. Hal ini ditujukan untuk menghindari kekakuan dan menambah kedekatan kita dengan profesor. Selanjutnya, jalin korespondensi terus dan jangan sampai balas – balasan email tersebut diputuskan atau disudahi oleh profesor. Kita dapat membuat balas – balasan terus terjadi dengan membuat diskusi yang menarik.

Jika topik diskusi dari satu paper sudah habis maka kita bisa mencari topik diskusi dari paper-nya yang lain. Kalau profesor bertanya kepada kita dalam email balasannya maka segera mungkin kita balas. Namun, jika tidak ada pertanyaan dalam email balasannya maka kita bisa memberi jeda beberapa hari untuk menulis email selanjutnya.

Setelah beberapa kali balas – balasan email dan kita merasa cocok serta ada peluang untuk menyatakan cinta eh salah…maksudku jika kita sudah merasa ada peluang untuk bisa bekerja di bawah bimbingannya maka segera kita nyatakan saja perasaan kita pada profesor tersebut. Kita dapat mengacu pada Email Penembakan untuk menyatakan perasaan kita. Email ini dapat diberi judul “Research Assistant Possibility”. Jangan lupa sertakan CV dan statement of purpose kita dalam email ini.

Umumnya, profesor – profesor juga akan mengajak kita interview melalui telpon ataupun video call. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan besar financial support insyaAllah akan kita dapatkan. Misi utama kita dalam interview tersebut adalah supaya semuanya berjalan lancar dan mulus, dan teman – teman dapat financial support. Berikut ini aku tuliskan beberapa saran untuk menghadapi interview tersebut:

1. Buat catatan ringkas tentang riset profesor, minat riset kita, alasan kita menyukai riset profesor tersebut, alasan kita memilih perguruan tinggi tersebut, dan kuliah yang sudah kita ambil.
2. Kita mesti percaya diri tapi jangan sombong. Jangan malu dan tegang.
3. “You and me” kita selevel dengan profesor. Namun, tetap ingat untuk sopan. Panggil beliau dengan “Doktor” + nama belakangnya supaya tidak kaku.
4. Pada saat bicara dengan profesor, yakinkan teman – teman sudah pasti akan ke perguruan tingginnya kalau diterima. Katakan “I really want to work with you” “I find your work very interesting and I look forward to doing research in (topik risetnya)”.
5. Jika kita ditanya apakah masih mempertimbangkan/menginginkan profesor, riset, dan perguruan tinggi lain, jawabannya adalah “NO”.
6. Hindari “kondisi hening” atau tanpa kata dalam interview. Jika kita kehabisan pertanyaan dan bingung kita dapat menanyakan kepada profesor hal – hal umum tentang riset atau research assistantship, misalnya kita tanya tanggal mulai riset, sponsor riset, partner kolaborasi dalam riset, dan jangan tanya durasi riset.
7. Jangan pernah berbicara apapun yang berbau negatif, misalnya tentang Indonesia ataupun sistem kuliah kita.
8. Jangan mengatakan bahwa kita mau bekerja di Amerika setelah selesai kuliah. Namun, katakan bahwa kita ingin kembali ke Indonesia untuk berkarir di bidang akademik.
9. Jangan minta keputusan dari profesor apakah kita diterima atau tidak.
10. Kalau sudah akhir – akhir interview katakan “Please let me know if there is anything else you need from me“
11. Kalau sudah selesai interview katakan “Thank you very much for this opportunity“.

Eits, tips dari Andhika belum selesai. Setelah mendorong diri untuk memaksimalkan nilai standardized test serta melakukan pendekatan pada profesor-profesor, ada hal lain yang juga perlu untuk dilakukan. Apa saja? Simak seri tulisan berikutnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved