Sungai Musi di Muba Penuh Jamban
Sungai Musi yang membelah Kota Sekayu dipenuhi oleh jamban yang berbaris di tepi sungai.
Tayang:
Penulis: Eko Adiasaputro | Editor: Soegeng Haryadi
SRIWIJAYA POST/EKO ADIASAPUTRO
Puluhan jamban mengapung di Sungai Musi, Sekayu. Kondisi ini cukup ironis, mengingat Muba sudah enam kali meraih Piala Adipura berturut-turut.
SRIPOKU.COM, SEKAYU -- Sungai Musi yang membelah Kota Sekayu, Ibukota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dipenuhi oleh jamban yang berbaris di tepi sungai. Kondisi ini tentu sangat miris, karena Kota Sekayu salah satu kota yang meraih Piala Adipura hingga enam kali berturut-turut.
Pantauan Sripoku.com, Senin (30/5/2011), di balik kesuksesan Muba sebagai kabupaten yang kerap meraih penghargaan, masih memiliki masalah dalam hal fasilitas dan sanitasi. Sebagian besar warga yang tinggal di pinggiran Sungai Musi, masih bebas buang hajat di aliran sungai melalui rakit terapung.
Menurut warga, kondisi ini sudah berlangsung sejak nenek moyang mereka dulu, dan belum ada upaya pemerintah mencarikan solusi mengganti jamban terapung ini. Ditambah dengan kebiasaan warga yang sudah mengakar sejak lama, menjadikan pinggiran sungai penuh dengan bong-bong yang tidak tertata rapi. Hal ini tidak hanya menjadi persoalan di tengah warga yang tinggal di bagian hilir.
Tapi juga cukup mengganggu pemandangan saat melintas di Jembatan musi atau yang lebih dikenal dengan simpang JM.
"Sebelum saya lahir, kebiasaan buang air (hajat) di Sungai Musi ini sudah ada. Jadi ini bonus bagi kami yang tinggal di pinggir sungai, jadi tidak perlu bikin WC lagi, dan biayanya juga tidak murah," kata Ruslan Muhayyan (46), warga di pinggir Sungai Musi.
Hal senada dikatakan Beti (34). Menurutnya sanitasi yang memprihatinkan ini sudah diakui menjadi bagian nasib mereka yang dirasa kurang beruntung. Terlebih dia dan keluarganya hingga kini masih tinggal di bangunan yang disebutnya sebagai gubuk.