Bos Hotel Rian Pimpin PHRI Sumsel
ERLAN Aspiudin, pemilik Rian Cottage di komplek Sukarami terpilih sebagai Ketua PHRI Sumsel periode 2010-2015. Dia terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke VI PHRI, Senin (4/4).
Rapat pemilihan dipimpin langsung Maulana Yusran yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah Sumatera II BPP PHRI dan dihadiri enam perwakilan Badan Pengurus Cabang (BPC) PHRI dari total 10 DPC yang ada.
Proses pemilihan berlangsung alot karena sebelumnya kegiatan ini sempat tertunda selama dua bulan. Pada Februari lalu pengurus PHRI pusat menghentikan Musda lantaran proses pengurusan izin belum rampung.
“Dulunya bukan dibekukan tapi ditunda saja, karena panitia terlambat menghubungi DPP PUsat, padahal secara normal seharusnya undangan telah disebar sebulan sebelum pelaksanaan, tapi
faktanya dulu undangan tiba mepet banget makanya kita hentikan dulu agenda utamanya,” kata Maulana saat pemilihan.
Tentang empat perwakilan DPC yang tidak hadir, dikatakan tidak masalah. Dia menyatakan mereka yang tidak hadir sudah menyampaikan izin tertulis sehingga jika tetap dilaksanakan pemilihan jumlahnya telah memenuhi kuorum.
“Jumlah yang hadir sudah enam DPC, makanya apapun keputusan siapa yang terpilih nantinya sudah sesuai kuorum,” katanya.
Sebelumnya, ada tiga kanditat yang maju dalam proses pemilihan, yakni Iwan Setiawan, mantan ketua PHRI sebelumnya, Johan Tamara, General Manager Hotel Royal Asia dan Erlan, bos Rian Cottage.
Erlan memenangkan lima suara BPC, Johan mengantongi satu suara dan Iwan tidak ada suara. Proses pemilihan dilakukan secara vooting selama satu jam.
Erlan, ditemui usai pemilihan pria ini mengaku akan melakukan koordinasi internal dengan semua pengurus.
“Saya sadar dari kegiatan ini akan muncul perpecahan suara, makanya saya ingin merangkul dulu semua pengurus agar kinerja ke depan lebih solid dan fokus,” katanya.
Selanjutnya dia siap melakukan standarisasi hotel serta mendata ulang semua perhotelan di Sumsel, termasuk mengemasnya dalam agenda persiapan SEA Games.
“Bagi saya SEA Games itu bukan jadi patokan utama untuk kerja, karena kegiatan itu hanya bersifat sementara saja bukan hal dinamis yang terus berlanjut. Proses restrukturisasi lebih penting
dirombak karena ini menyankut kinerja PHRI ke depan. Agenda ini yang lebih saya prioritaskan,” katanya. (sta)