Pasien Gagal Injal Terpaksa Antre
Salah satu pasien yang menjalani cuci darah di ruang hemodialisa di Graha Spesialis lantai II RSMH Palembang
PALEMBANG - Kendati RSUP dr Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang menyediakan 18 unit hemodialisis (Hd) dan 18 tempat tidur (bed), masih saja kurang. Untuk itu, pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah harus antre dan dijadwal sesuai dengan giliran. Untuk mendapat giliran, mereka harus menunggu selama empat jam. Untuk melayani cuci darah ini, terkadang perawat terpaksa lembur terlebih ada pasien emergency.
Ruang hemodialisa terletak di Lantai II Gedung Graha Spesialis dengan ruang terbesar di semua rumah sakit dan Klinik di Palembang, begitu pun dengan jumlah mesinnya. Pantauan Sripo, Jumat (14/5) sebagian besar pasien yang cuci darah sudah lama. Ada yang tiga tahun bahkan ada yang sudah menjalani selama 10 tahun. Untuk pasien delapan tahun cuci darah, sebagian besar sudah meninggal dan hanya seorang yang masih bertahan, ia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemprov Sumsel, yakni Rizal Basri (45) warga kompleks Perumahan Sangkuriang, Kenten Blok BB2 RT 61.
Pasien melakukan cuci darah dengan hemodialisis yang merupakan dialisis dengan menggunakan mesin dialiser yang berfungsi sebagai "ginjal buatan". Pada HD, darah dipompa keluar dari tubuh, masuk ke dalam mesin dialiser. Di dalam mesin dialiser, darah dibersihkan dari zat-zat racun melalui proses difusi dan ultrafiltrasi oleh dialisat (suatu cairan khusus untuk dialisis), lalu dialirkan kembali ke dalam tubuh. Proses HD dilakukan 1-3 kali seminggu di rumah sakit dan setiap kalinya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Darah yang dipompa (blood pump) diatur dengan kecepatan tertentu, mulai dari start awalnya 240/detik, 260/detik dan melemah menjadi 160/detik.
"Ibarat mobil, kalau sudah mau sampai ke tujuan, gas dikecilkan begitu pun dengan porsenelingnya," kata Rizal.
Kepada Sripo, Rizal yang kini sudah bisa menerima keadaan dirinya mengaku harus cuci dua kali selama satu minggu. "Kalau sedang bosan, saya malas juga. Tapi kalau tidak cuci darah, kita tahu dampaknya. Jadi timbul semangat lagi," katanya.
Kondisi serupa juga dialami H MT Subekti (86), pensiunan Perwira Menengah TNI AD. Ia dapat rekomendasi harus cuci darah dari dr H Yan Effendy, SpPD-KGH.
"Bapak sangat stres dan tidak terima kalau harus cuci darah. Tapi, inilah kenyataan hidup mau apalagi. Kami harus jalani semua ini selama tahun ini," papar sang istri yang setia mendampinginya selama empat jam proses cuci darah.
Pasien Dijadwal
Kepala Instalasi Humas dan Pemasaran RSMH Palembang, dr Hj Eva Minerva mengatakan, pasien cuci darah sebagian besar sudah dijadwalkan sehingga tidak repot lagi. Misalnya, pasien A cuci darah setiap Rabu dan Sabtu jam 08.00-12.00. Hanya saja, lantaran jumlah pasien cuci darah meningkat, maka layanan hemodialisa dibagi dua sift pagi (pukul 08.00-12.00) dan siang (pukul 12.00-16.00). Terkadang, ada pasien rawat darurat sehingga petugas harus lembur menunggu pasien cuci darah. Sebelum pukul 12.00 sift pertama berakhir, pasien sift kedua sudah antre menunggu di luar. "Sejauh ini alat yang disediakan sudah cukup banyak," kata Eva.
Terpisah dr Yan Effendy SpPD-KGH --dokter ahli ginjal --menjelaskan cuci darah adalah tindakan medis yang dilakukan menggunakan mesin cuci darah (hemodialisa) berfungsi menyaring racun-racun dalam tubuh dan mengeluarkannya, hal ini biasanya dilakukan kepada penderita gagal ginjal sehingga fungsi ginjalnya tidak bisa bekerja dengan baik, cuci darah biasanya dilakukan seminggu dua kali.