Mutiara Ramadan
ANTRI, Orang yang Sedang Berderet-deret Menunggu Giliran itu Mesti Siap-siap
“Perilaku seseorang di luar rumah menunjukkan adab dan akhlak mereka di dalam rumah”, demikian pesan ibuku yang semoga selalu menjadi pagar bagiku, ke
Oleh: Izzah Zen Syukri
BARISAN di depan konter salah satu maskapai di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 Palembang hari itu terbilang panjang. Aku salah satunya. Tiba-tiba dengan serta merta dan tanpa ba bi bu, sesosok perempuan berjilbab yang kedua tangannya menenteng tas diikuti bocah kira-kira usia Sekolah Dasar telah berada di barisan paling depan. Hatiku terbakar. Mungkin, senada dengan degup jantung para pengantre lainnya. Tak ada satu pun petugas konter yang menegur karena dari tadi kuperhatikan wajah mereka berkutat pada layar monitor. Bertambah “menanglah” perempuan itu, jika hari ini diibaratkan sebuah pertandingan pencetakan lembaran check in tercepat.
• Meski Diundur, Pembuatan SKCK Masih Bembludak Nyaris 500 Nomor Antri Ludes dalam Sekejab
• Siapkan 21.917 Paket Sembako Seharga Rp 15 Ribu, Rina Rela Antri Berdesakkan Hingga 1,5 Jam
Pemandangan ini, saudaraku, bukan sekali ini saja kujumpa. Dirimu pun mungkin telah beberapa kali melihat hal senada. Aku selalu teringat mendiang ibuku yang nafasnya penuh dengan mutiara hikmah. “Perilaku seseorang di luar rumah menunjukkan adab dan akhlak mereka di dalam rumah”, demikian pesan ibuku yang semoga selalu menjadi pagar bagiku, keluargaku, dan kamu yang membaca tulisan ini. Ibnu Mubarok R.A. menguatkan pesan ini dengan perkataannya, “Sedikit dari adab lebih kita butuhkan daripada ilmu yang banyak”.
Tak ada yang menyangkal bahwa iblis itu pintar, genius, dan banyak ilmunya Empat puluh tahun ia berdiam di surga. Empat puluh tahun ia rukuk. Empat puluh tahun ia i’tidal, dan empat puluh tahun ia sujud. Akan tetapi, Allah murka padanya karena tak berdab, tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada hamba pilihan Allah, yakni Nabi Adam A.S.
Kisah di atas juga memuat beberapa pelajaran tentang antre. Bahwa orang yang sedang berbaris berderet-deret menunggu giliran itu mesti siap-siap. Jangan sampai tiba gilirannya, ia masih main HP, ngobrol, atau melakukan aktivitas yang memperlambat barisan.
Dalam skup yang lebih besar, kita semua sesungguhnya sedang berada di barisan antre. Jika saat ini seseorang sedang memegang amanah sebagai kepala desa, camat, walikota, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden, suatu saat jabatan itu akan bergilir dan bergulir. Otomatis, kita yang sedang berada di barisan antre ini tak boleh lengah. Kita mesti mempersiapkan seperangkat kompetensi dan multi kecerdasan saat tiba giliran kita. Yang antre tak hanya piawai bicara mengenai orang-orang yang lebih dahulu gilirannya daripadanya. Akan sangat bijak jika ia banyak belajar dari para pendahulu untuk menampal yang bolong, menyulam yang sudah baik, dan menuntaskan yang telah dirintis.
Satu hal lagi yang harus dimiliki para pelaku antre, yaitu sabar. Sifat ini umumnya enak dinasihatkan, tetapi sungguh sulit dipraktikkan. Yakinlah sesudah orang lain pasti akan tiba giliran kita. Tak ada protes, unjuk rasa, apalagi amarah. Berbarislah dengan tertib hingga giliran kita tiba.
Antre identik dengan sabar. Sifat ini diajarkan dan ditempa oleh Romadhon. Sabar menunggu waktu berbuka. Sabar menghadapi cuaca yang mungkin kurang bersahabat dengan kita, padahal itu adalah dianugerahkan Allah buat kita. Sabar menghadapi tingkah laku teman yang mungkin tidak sesuai syariat dan jauh dari agama. Sabar dalam berbagai hal lebih-lebih di siang hari bulan puasa.
Tidak hanya urusan dunia, kita juga sedang berbaris antre menunggu panggilan Allah ke alam barzah. Setelah itu, tahapan dan prosesi antre juga akan kita lalui. Antre menunggu pemberian catatan amal, hingga kita tahu muara perjalanan kita: berjalan ke kanan dengan nikmat tiada terhingga atau masuk golongan kiri dalam azab api yang menyala. Naudzubillah. (*)