News Video Sripo

Rumahnya Nyaris Roboh,Nunung dan Keluarga Pilih Tetap Tinggal

Ditambah atap yang terbuat dari campuran seng dan genteng sudah tidak bisa menghalau air hujan yang masuk ketika hujan turun.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Jika angin kencang dan hujan sudah turun tidak ada pilihan bagi Nurhasanah atau kerap di sapa Nunung (46) untuk waspada karena rumah yang ditinggalinya sewaktu-waktu dapat rubuh akibat hentakan angin. Rumah yang sebelumnya berdiri kokoh, saat ini sudah nyaris rubuh sekitar 60 derajat. Hal itu membuat setiap orang yang ingin masuk ke dalam rumahnya akan kesulitan. 

Ditambah atap yang terbuat dari campuran seng dan genteng sudah tidak bisa menghalau air hujan yang masuk ketika hujan turun. Alhasil, dirinya beserta keluarga harus menampung air bahkan terjaga saat hujan di malam hari.

Rumah berukuran 3 x 5 meter, terdiri dari dapur dan 2 kamar tidur yang terbuat dari kayu tersebut saat ini penuh dengan retakan dan patahan akibat dimakan usia. Nunung bercerita awal pertama kali rumahnya miring terjadi 3 tahun silam. Menurutnya saat itu kayu penyangga yang menopang rumahnya sudah tidak kuat lagi menahan beban yang ada. Alhasil rumah yang sudah 18 tahun berdiri itu akhirnya tidak berdaya. 

"Saya beserta suami, anak dan ibu saya menempati rumah ini sejak anak saya lahir 18 tahun lalu. Rumah ini dari dulu tidak pernah di renovasi, karena kesulitan biaya. Untuk berteduh saja dan istirahat kami sudah bersyukur," ungkapnya kepada Sripo, Selasa (27/11).

Sudah sejak 18 tahun lalu, kala ia baru menikah dan menempati rumah tersebut hingga saat ini, rumah yang berdiri diatas tanah warisan bapak mertuanya tersebut belum pernah di renovasi. 

Rumah yang terletak di Jalan Taqwa, Lorong Utama tepat berada di belakang Pasar Yadha, Mata merah tersebut, menurut Nunung hanya menunggu waktu naasnya. 

"Rumah ini sewaktu-waktu dapat roboh. Tidak ada jaminan dapat bertahan," ungkapnya. 

Keinginan untuk memperbaiki rumah tersebut terkendala pemasukan. Nunung yang sehari-hari bekerja sebagai Pembantu Rumah tangga dan sang suami yang bekerja sebagai kuli bangunan tidak sanggup memutar uang untuk merenovasi rumah tersebut. Menurutnya untuk makan saja mereka kesulitan. 

"Saya bekerja sebagai buruh cuci di rumah warga, gajinya cuma Rp 400 ribu sebulannya. Kalau bapak kuli bangunan kadang kerja, kadang juga tidak, jadi pemasukan tidak tetap. Kemarin saja hampir 6 bulan tidak kerja, karena sakit. Alhamdulilah sudah seminggu bapak sudah kembali dapat kerja."

"Jadi uang hasil kerja tersebut habis untuk keperluan dapur saja, untuk keperluan makan empat anggota keluarga yang tinggal di sini," ujarnya. 

Uang hasil kerja bahkan tidak cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari alhasil, dirinya kerap meminjam uang kepada tetangga untuk menutupi keperluan sehari-hari itu. Beberapa warga memang kerap datang berbagi beras, uang dan bantuan lainnya, sehingga sedikit meringankan beban Nunung dan keluarga.

Beban keluarga tersebut juga bertambah dengan kekurangan yang dimiliki oleh anak semata wayang hasil buah cintanya, Ayu Kartika Sari (18). Ayu memiliki kekurangan dibadingkan dengan anak-anak lain, penyakitnya pertama kali terjadi saat anaknya berada di kelas dua sd. Akibat panas tinggi yang dideritanya, Ayu saat ini kesulitan berintraksi dengan orang lainnya. Tidak ada biaya bagi Nunung dan keluarga untuk membiayai pengobata sang anak. Dirinya pun pasrah hingga suatu saat anaknya akan kembali sehat dan normal kembali.

"Saya ingin Ayu ini kembali normal. Sejak dia step, jadi keterbelakangan mental. Tidak ada biaya untuk membuat Ayu normal kembali. Saya hanya buruh cuci, tidak bisa apa-apa," ujarnya sedih.

Nunung pun berharap, pemerintah dapat membantu masalah yang sedang dihadapi keluarganya tersebut.

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved