News Video Sripo

Pembunuhan di Kompleks Kebon Sirih Palembang, Ini Kata Psikolog Forensik RS Bhayangkara

Kasus pembunuhan satu keluarga di Kompleks Villa Griya Kebon Sirih kawasan Patal Pusri Palembang

Penulis: Rahmad Zilhakim | Editor: Igun Bagus Saputra

Laporan wartawan Sripoku.com,Rahmad Zilhakim

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kasus pembunuhan satu keluarga di Kompleks Villa Griya Kebon Sirih kawasan Patal Pusri Palembang yang diduga dibunuh oleh kepala keluarga sebelum akhirnya ikut meregang nyawa menggunakan senjata api menjadi sorotan publik, Rabu (42/10/2018).

Dari data yang didapat dan bukti-bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Psikolog forensik, Syarkoni, menilai kasus yang menimpa satu keluarga tersebut akibat gangguan jiwa yang dialami oleh sang kepala keluarga.

"Setelah saya lihat dari surat wasiat yang ditinggalkan di sana tertulis, 'Aku sangat sudah lelah. Maafkan aku', lalu surat berikutnya tertulis.

'Aku sangat sayang dengan anak dan istriku. Choky & Snowy (binatang peliharaan korban). Aku tidak sanggup meninggalkan mereka di dunia ini'.

Dari indikasi surat tersebut dapat dilihat ada tekanan jiwa yang diterima pelaku secara kasat mata mempengaruhi mentalnya," ujar Syarkoni saat dihubungi Sripoku.com.

Dikatakan Syarkoni, untuk saat ini memang belum dapat ditarik kesimpulan apa penyebab sang korban tega menghabisi nyawa keluarganya tersebut.

"Kalau dibaca dari surat dan pesan-pesan terakhir korban di grup pertemanannya.

Saya curiga ada sederet riwayat pengalaman korban mengalami stres berat yang melatarbelakangi tindakan melakukan pembunuhan tersebut."

"Namun stres seperti apa, ini harus ditelusuri secara cermat pada orang-orang yang mengetahui bagaimana kondisi kehidupan korban (pelaku) anaknya dan istrinya juga. Dari sana dapat diambil sebuah kesimpulan mengapa korban tega melakukannya," ujarnya.

Dalam ilmu psikologi, Syarkoni melihat bahwa kejiwaan pelaku dapat dilihat dari bagaimana korban berinteraksi semasa hidup, dari indikasi awal dapat dilihat bahwa pelaku mengalami depresi berat.

"Secara psikologis perlu dilakukan assesmen secara mendalam pada keluarga korban yang masih hidup, pada teman teman korban yg mengetahui kehidupan keluarga korban. Apa lagi korban memilih menghabiskan satu keluarganya, dan tidak rela jika keluarganya harus menanggung derita di dunia sendirian, yang pasti ada indikasi pelaku mengalami depresi berat," ujar Syarkoni.

=====

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved