Berita Palembang

Berita Palembang: Minta Kejelasan Nasib, Guru Honorer K2 Menangis Tersedu di Halaman DPRD Sumsel

Para honorer K2 tersebut melakukan aksi demo menuntut pemerintah menunda pelaksanaan tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS 2018)

Berita Palembang: Minta Kejelasan Nasib, Guru Honorer K2 Menangis Tersedu di Halaman DPRD Sumsel
SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL
Honorer K2, Firdayati dan Susmiati menangis saat melakukan aksi demo di halaman Gedung DPRD Sumsel, Kamis (4/10/2018). 

Berita Palembang: Minta Kejelasan Nasib, Honorer K2 Menangis Tersedu di Halaman DPRD Sumsel

Laporan wartawan Sriwijaya Post Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sejak pukul 08.00 pagi ribuan Honorer K2 dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan berkumpul di depan halaman DPRD Sumsel jalan Pom IX Kota Palembang, Kamis (4/10)

Para honorer K2 tersebut melakukan aksi demo menuntut pemerintah menunda pelaksanaan tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS 2018) karena dianggap tidak memikirkan nasib para honorer.

Dalam aksi demo tersebut puluhan guru terlihat menangis tersedu memikirkan nasibnya yang kian hari semakin tidak jelas, berbagai ekspresi wajah sedih ditunjukkan dan air mata nampak menjadi penanda kesedihan mereka. 

Baca: Berita Palembang: PDAM Tirta Musi Palembang Bakal Hentikan Penyaluran Air 7 Jam di Kertapati

Baca: Tak Canggung, Ayu Ting Ting Perankan Nagita Slavina, Sifat Asli Raffi Ahmad  Malah Terbongkar!

Baca: Ingat Tegar ‘Pengamen Jalanan? Hartanya Pernah Dibawa Lari, Lama Menghilang Nasibnya jadi Begini

"Kami sangat sedih saat mendengar ada pengumuman CPNS tetapi untuk usia kami terbatas. Padahal sesuai janji pemerintah selama ini akan membantu kami sebagai guru honorer dengan mengangkat kami sebagai PNS. Bahkan dari 2013 kami dijanjikan, didata, melakukan tes dan sebagainya. Tapi nyatanya hingga hari ini kami tidak dipikirkan, bahkan dilupakan," ujar Fardayati guru Honorer asal SD Muara Katih, Musi Rawas sambil menangis tersedu.

Hal serupa juga diungkapkan Susmiati yang mengaku sudah mengabdi sebagai honorer di dinas pendidikan sejak tahun 1996.

Dirinya mengaku hanya menerima upah mengajar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu dalam sebulan.

Hal itupun baru dapat dinikmatinya usai bekerja selama tiga bulan.

Baca: Berita Lubuklinggau: Gelapkan Tiga Sepeda Motor, Pria Pengangguran Ini Akhirnya Kena Batunya

Baca: Pengakuan Maia Estianty Jadi Sorotan, Tiba-tiba Ungkap Soal Jatuh dan Menerima, Singgung Dhani?

"Saya Susmiati sejak 1996 mengajar di SMP di Musi Rawas. Puluhan tahun saya mengajar berbekal keiklasan, untuk mengabdi kepada dunia pendidikan. S2 saya selesai, saya bahkan pernah ditawari menjadi Dosen tetapi, tidak saya terima. Saya memilih mengabdi di sini. Saya memikirkan kemana nantinya nasib murid-murid kami. PNS harga mati, umur kami tidak lama lagi makanya kami honorer terus berjuang," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Rangga Erfizal
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved