News Video Sripo

Suka Duka Mardiah, Penenun Songket Palembang Selama Puluhan Tahun

Hal inilah yang dilakukan oleh Mardiah salah satu penenun kain songket di Kota Palembang

Laporan wartawan Sripoku.com,Rahmad Zilhakim

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Menenun adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Hal ini dikarenakan pekerjaan tersebut membuat orang yang melakukannya harus dapat meramu sutra menjadi sebuah kain bernilai jual tinggi.

Hal inilah yang dilakukan oleh Mardiah salah satu penenun kain songket di Kota Palembang saat ditemui dalam acara Sumatera Expo 2018, bertempat di gedung Dekranasda, Jakabaring Palembang, Kamis (16/08/2018).

Mardiah sudah melakoni pekerjaan menenun songket di rumah songket Harapan Baru sejak 15 tahun silam tepatnya, diawal tahun 2000an. Baginya selain melatih sabar meramu songket juga dapat menjadi sebuah mahakarya jika dilakukan dengan keikhlasan.

"Untuk membuat songket ini tidak sulit, namun tidak juga mudah karena butuh ketelitian, ketepatan, dan kesabaran. Tiga komposisi itu lah yang membuat saya dapat bertahan sampai saat ini," ungkapnya.

Tidak hanya sampai disana, dirinya pun menggantungkan hidup melalui pekerjaan menenun kain songket. Sudah tidak terhitung, silih berganti penenun yang ada. Dari generasi ke generasi. Ada yang memilih pekerjaan lain, ada juga yang tetap menenun hingga sekarang.

"Sudah tidak terhitung sudah berapa banyak penenun yang silih berganti dari jaman ke jaman. Bagi saya pekerjaan ini merupakan panggilan untuk terus melakukan pekerjaan ini," ungkapnya.

Untuk melakukan pengerjaan menenun Mardiah mengaku dapat menyelesaikan 1 hingga 2 kain songket dalam waktu sebulan. Hasil secara tradisional diakui memang memakan waktu yang lama, dibanding dengan songket buatan mesin yang bisa dikerjakan hanya dalam satu hari.

"Paling satu tenunan kain ini bisa menjadi kain bernilai jual cuma satu atau dua kain dalam sebulan. Kain yang digunakan pun haruslah sutra dengan kualitas baik, jika digunakan dengan kain kualitas baik hasilnya akan berwarna agak gelap," ungkapnya.

Sementara, pemilik songket Harapan Bara, bernama Cek Yeti mengungkapkan, untuk harga songket yang dijual ditempat bervariasi mulai dari yang murah hingga yang paling mahal. Hal itu didasarkan oleh cara pembuatannya. Jika dilakukan secara tradisional maka harga yang dijual akan lebih mahal dengan yang dibuat menggunakan mesin.

"Harga variasi untuk satu gulung songket berukuran 2 meter seharga Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 tergantung motif, dan benang sutra yang dipakai. Sedangkan untuk buatan mesin cukup merogoh kocek Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Keutamaan songket buatan tangan atau tradisional ialah teksturnya yang lembut," ungkapnya.

Tidak hanya menjual songket, dirinya pun menjual Tanjak yang merupakan topi khas masyarakat Palembang yang berbentuk segitiga. Pembuatan tanjak juga melalui mesin dan secara tradisional.

"Untuk tanjak sendiri dihargai Rp 50 ribu untuk buatan mesin, sedangkan untuk yang buatan tangan seharga Rp 500 ribu," ujarnya.

Jadi bagi anda yang tertarik untuk melihat secara langsung pembuatan kain songket dapat langsung berkunjung ke Sumsel Expo 2018.

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help