News Video Sripo

MUI Minta Dinkes Untuk Tunda Imunisasi Vaksin MR, Ini Alasannya!

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluarkan pernyataan resmi terhadap desas desus

Laporan Wartawan Sripoku.com, Rahmad Zilhakim

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengeluarkan pernyataan resmi terhadap desas desus vaksin Rubella yang akan dilakukan oleh Dinas kesehatan (Dinkes), Senin (06/08/2018).

Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumsel, Aflatun Muchtar mengungkapkan, pelarangan sementara waktu terhadap vaksin Rubella didasarkan pada surat keputusan MUI Pusat yang telah dikeluarkan beberapa waktu lalu di Jakarta.

"MUI Sumsel mengeluarkan sikap meminta kepada Dinkes untuk menunda launching imunisasi vaksin Rubella sampai ada ketetapan bahwa vaksin ini aman digunakan, melalui standart halal. Hasil kesepakan Kementerian kesehatan dan MUI kemarin menunda sementara waktu pemberian vaksin," ungkap Ketua MUI wilayah Sumatera Selatan tersebut.

Lanjutnya, keputusan MUI tersebut didasarkan atas kepentingan umat. Menurut Aflatun, sebagai seorang muslim harus mematuhi keputusan ini sampai ada keputusan lanjutan.

"Mengingat masyarakat Sumatera Selatan 90 persen muslim. Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bersama maka, Dewan Majelis Ulama Indonesia Sumsel memberikan rekomendasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan dan 17 kabupaten Kota untuk menunda sementara waktu pelaksanaan imunisasi MR atau Vaksin Rubella," ujarnya.

Langkah yang diambil MUI Sumsel dengan adanya keputusan ini langsung memberikan surat rekomendasi yang ditetapkan Dewan Pertimbangan kepada pengambil kebijakan dalam hal ini Dinkes.

"Berdasarkan fatwa MUI nomor 4 tahun 2016 menjelaskan, imunisasi dalam Islam dibolehkan (mubah) sebagai bentuk mewujudkan kekebalan tubuh. Vaksin dilakukan dengan bahan yang halal. Dan penggunaan vaksin haram tidak dibolehkan kecuali dalam kondisi Al dlarurat. Namun, hingga saat ini vaksin tersebut belum memperoleh sertifikasi halal, sehingga tidak boleh dilakukan imunisasi," tutupnya.

Penulis: Rahmad Zilhakim
Editor: Igun Bagus Saputra
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help