Kisah Anak Cari Ayah yang Tewas di Barisan Prajurit Kopassus, Sang Ibu Sampai Tak Berani Jujur
Kisah Sedih Anak Cari Ayah yang Tewas di Barisan Prajurit Kopassus, Sang Ibu Sampai Tak Berani Jujur
Penulis: Fadhila Rahma | Editor: Fadhila Rahma
SRIPOKU.COM - 7 Desember 1975, TNI menggelar operasi lintas udara terbesar untuk menguasai Kota Dili, Timor Portugal.
Jumlah pasukan yang diterjunkan 270 orang Prajurit Para Komando dari Grup I Kopasandha (kini Kopassus TNI AD) dan 285 prajurit Yonif 501.
Banyak kelemahan dari operasi penyerbuan itu. Antara lain data intelijen yang salah. Disebutkan musuh yang menjaga Kota Dili hanya sekelas dengan Hansip. Ini salah besar.
Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbikan Kata.

Baca: Heboh Bendera Israel Berkibar di Palembang, Padahal Bukan Negara Peserta Asian Games 2018, Mengapa?
Baca: Mengungkap Suka Duka Istri Prajurit Kopassus, Misi Rahasia Tahu-tahu Saling Tembak Lawan Musuh
Namun cukup banyak korban jiwa yang gugur dalam misi tersebut.
Kopasandha kehilangan 19 prajurit. Sementara dari Yonif 501, gugur 35 orang.
Pasukan Grup I Kopasandha bertugas empat bulan di Timor Timur.
Mereka diterjunkan mulai hari H 7 Desember 1975, hingga 31 Maret 1976.
Baca: Lagu Nissa Sabyan Atouna El Toufoule Tranding 1 Youtube, Ini Video Lengkap & Liriknya Bisa Download
Baca: Jadwal Pertandingan dan Harga Tiket Terlengkap Cabor Angkat Besi Asian Games 2018, Beli Disini
Pasukan inilah yang melewati masa-masa terberat di awal Operasi Seroja. Hampir tidak ada hari yang dilewatkan tanpa penyergapan dan tembak menembak.
Akhirnya mereka pun ditarik pulang ke Home Base mereka di Cijantung dengan menumpang kapal KM Tolanda.
Butuh beberapa hari pelayaran dari Dili hingga Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Dari Tanjung Priok, puluhan truk sudah menunggu untuk membawa mereka pulang ke Cijantung yang berada di Jakarta Timur.
Baca: Detik-Detik Pulau Komodo Gililawa Terbakar, Begini Kondisi Hewan hingga Nasib Populasi Hewan Komodo
Baca: Mengungkap Suka Duka Istri Prajurit Kopassus, Misi Rahasia Tahu-tahu Saling Tembak Lawan Musuh
Kapten Bambang Mulyanto mengingat perjalanan itu terasa sangat lama.
Para prajurit sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan keluarga yang sudah ditinggalkan empat bulan lamanya.
Kapten Bambang menceritakan tiba di asrama Kopasandha, Cijantung, terlihat ibu-ibu, anak-anak, dan masyarakat berdiri berbaris di sepanjang jalan.
Mereka melambai-lambaikan tangannya menyambut para pahlawannya masing-masing.
Pada saat truk berhenti, berhamburanlah mereka mencari suami, ayah, keluarga atau teman mereka.
Baca: Kisah Prajurit Kopassus Tak Sengaja Meng-KO Master Karate Jepang Sekali Pukul
Baca: Terjun di Lembah X Gunung Jayawijaya Dihuni Suku Pemakan Manusia, Prajurit Kopassus Terkejut
Baca: Disebut Pasukan Neraka Inilah 4 Pasukan Elit Paling Mengerikan di Dunia & Latihan Paling Sadis
"Ada satu hal yang membuat saya menitikkan air mata ketika menyaksikan putra almarhum Koptu Samaun berlari kian kemari mencari ayahnya yang sudah gugur dan dikebumikan di Timor Timur," kenang Kapten Bambang sedih.
Rupanya sang ibu tak berani menceritakan pada anaknya bahwa sang ayah sudah gugur. Karena itu bocah malang itu masih berlari-lari ingin menyambut ayahnya yang hilang.
Kopral Satu Samaun gugur pada tanggal 7 Desember 1975 di tengah pertempuran merebut Kota Dili.
Dia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi sersan dua.