Terlilit Banyak Utang, Ibu Ini Berjuang Sendirian Selamatkan Putranya Yang Terkena Kanker Mematikan
Rani tak bisa berbuat banyak, karena mereka terbebani dengan banyaknya hutang yang ia tanggung selama mengobati Pavan putranya.
Penulis: ewis herwis | Editor: ewis herwis
SRIPOKU.COM-- Seorang pria bernama Pavan yang berusia 19 tahun menderita kanker darah yang mematikan.
Hanya dalam waktu 2 bulan saja kondisi Pavan semakin memprihatinkan dan kian memburuk.
Satu-satunya kesempatan agar ia bisa bertahan hidup hanyalah bergantung pada kerawatan medis yang teratur.
Tapi Rani, orangtua tunggal Pavan tak bisa berbuat banyak, karena mereka terbebani dengan banyaknya hutang yang ia tanggung selama mengobati Pavan putranya.
Bahkan untuk membelikan makanan bagi putranya Rani selalu berhutang, ia tidak memiliki apapun untuk menyelamatkan putranya.

Seperti yang dilansir dari milaap.org, Pavan didiagnosa mengidap kanker darah sekitar 2 bulan yang lalu saat ia mendapatkan sejenis jerawat di tubuhnya dan segera menyebar kesekujur tubuhnya dan sulit hilang.
Rani pun membawa Pavan ke dokter dan betapa terkejutnya Rani ketika mendengar penjelasan dokter.
Ternyata Pavan menderita penyakit Kromosom Laukemia Limfoblastik akut yang merupakan bentuk Kanker darah yang sangat langka dan telah menyebar dengan cepat di tubuh Pavan.
"Hatiku Terasa hancur. Ini terjadi begitu cepat, aku hanya terkejut. Kami memulai kemoterapinya pada akhir April 2018, tetapi ini sangat parah. Dia (Pavan) terus muntah berkali-kali dalam sehari. Dia bahkan tidak bisa berdiri sendiri dan dia pun beberapa kali terjatuh ke lantai. Dia jarang tidur nyenyak dan sambil menahan sakit dia terus menerus mengatakan bahwa ia tidak tahan dengan penyakit yang ia derita ini. Tubuhnya terlalu lemah." kata Rani.
Bahkan Pavan sering mengatakan lebih baik memilih mati daripada sakit dan terus membebani ibunya.

Dokter mengatakan salah satu cara untuk menyelamatkan nyawa Pavan adalah dengan menjalani transplantasi sumsum tulang dengan cepat dan dengan kemoterapi.
Pavan sekarang merasa sangat kesakitan dan mengalami depresi karena ia merasa bertanggung jawab atas beban keluarganya.
“Pavan adalah orang yang sangat banyak bicara dan lucu. Dia akan membuat kita tertawa sepanjang waktu. Sekarang, dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia 57 kilo dan hanya dalam sebulan dia 50 kilo. Dia kehilangan begitu banyak berat badan begitu cepat. Saya juga tidak bisa tidur setiap malam. Saya hanya berdiri dan melihat dia dan menangis. Saya tidak percaya bahwa hidupnya bisa berakhir tanpa transplantasi. ” kata Rani.
Rani merupakan orangtua tunggal dari Pavan dan kakak perempuannya bernama Haritha.

Suami Rani yang seorang alkoholik telah meninggal dunia 18 tahun lalu saat Pavan baru berumur 1 tahun.
Walau hidup dibawah garis kemiskinan, Rani bisa menghidupi Pavan dan kakanya bernama Haritha dan juga berhasil memberi mereka pendidikan yang lebih baik.