Jasadnya Ditolak, Ini Kisah Puji Kuswati, Ibu Rayu Anak Ikut Bom Bunuh Diri, Pernah S2 di Australia
Jasadnya Ditolak, Ini Kisah Puji Kuswati, Ibu Rayu Anak Ikut Bom Bunuh Diri, Pernah S2 di Australia
SRIPOKU.COM - Jasad Puji Kuswati (42), salah satu pelaku bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya kini terkatung-katung.
Ia merupakan satu dari 13 jenazah yang tak diakui oleh pihak keluarga.
Pihak kepolisian pun meminta agar keluarga mau mendatangi RS Bhayangkara Surabaya untuk proses identifikasi jenazah dan pencocokan data primer dan sekunder.
Padahal, kedokteran forensik dan DVI RS Bhayangkara Polda Jatim, kata Barung sangat butuh data dari keluarga terduga teroris untuk mencocokan dengan jenazah.
"Ini terakhir, permohonan, nanti kami akan mengumumkan ke akun-akun resmi Polres jajaran," jelas Barung.
Jika tidak, pihaknya akan memutuskan langkah, yakni melakukan pemakaman dan membicarakannya dengan Pemprov Jatim dan tokoh agama.
"Tujuh hari kedepan lah, bisa kordinasi dengan Pemprov dan tokoh agama," imbuhnya.
Diketahui kalau jenazah Puji dan suami, Dita Oeprianto dan anak-anaknya ditolak di Banyuwangi.
Meski dia memiliki hubungan kerabat dan orangtuanya juga tinggal di Banyuwangi, pihak keluarga tetap tak ingin jenazah dimakamkan di Banyuwangi.
Namun belakangan, warga magetan bersedia menerima jenazah Puji dan juga Dita serta 4 anaknya untuk dimakamkan disana.
Apa alasan warga Magetan ingin menerima jenazah keluarga pelaku teror bom gereja ini ?
Berikut alasannya serta 5 fakta soal perjalanan hidup Puji Kuswati, dikutip dari TribunJatim.
1. Alasan Warga Magetan Terima Jenazah
Warga dan aparat Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan bersedia menerima jenazah Puji Kuswati, bomber di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya, bersama kelima anggota keluarganya, suami dan empat anaknya untuk di makamkan di pemakaman umum desa setempat.
Apalagi Puji sudah sejak lama berpisah dengan keluarga di Banyuwangi, dan diasuh oleh bibinya di Magetan.