Mutiara Ramadan
Jadila
"JUARO berapo lomba lari tadi, cung," kata kakek kepada cucunya. "Juara tigo. Jadila, Yai, daripado kawan aku idak juaro," cucunya menjawab santai.
Oleh Izzah Zen Syukri
Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang/Dosen FKIP Universitas Sriwijaya
SRIPOKU.COM - "JUARO berapo lomba lari tadi, cung," kata kakek kepada cucunya. "Juara tigo. Jadila, Yai, daripado kawan aku idak juaro," cucunya menjawab santai.
Berita Lainnya: Yok Jadi Orang Pelit
Kata 'Jadila' pada kalimat di atas itu berarti "cukup" atau "lumayan". Maknanya bahwa seseorang sudah merasa puas dan senang dengan apa yang diperolehnya, tanpa usaha yang maksimal.
Lihatlah mental bangsa kita ketika berlaga, dalam pertandingan sepak bola, misalnya. Saat gol sudah didapat, alih-alih ingin mengejar gol-gol berikutnya, malah waktu yang diulur-ulur agar cepat selesai. Sebaliknya, saat terasa waktu akan habis, sementara gol belum didapat, mereka tampak lelah dan kurang semangat. Ini karena menganut prinsip "jadila".
Fenomena ini berbanding terbalik saat kita menyaksikan pertandingan sepak bola internasional. Di ujung waktu pun mereka masih bersemangat mengumpulkan angka demi angka. Mental juara menanamkan rasa tak ada kata menyerah. Mental juara berkata bahwa takdir akan terlihat di ujung usaha.
Di bulan puasa, misalnya, tak cukup kita katakan, "Yang penting bisa puasa". Bagaimana dengan malam-malam kita? Akankah dibiarkan kosong tanpa merajut komunikasi intens kepada Pemilik alam semesta? Katanya mau hidup enak. Katanya mau hati tenang. Katanya mau punya prestasi bergudang-gudang. Tak ada orang yang istimewa jika tak diiringi dengan ibadah yang istimewa pula. Inilah aplikasi dari perintah Allah fastabiqul khoirot 'berlomba-lombalah dalam kebaikan'.
Konon, Raja Harun Al-rasyid di saat siang disibukkan dengan urusan melayani umat. Malam harinya ia habiskan waktunya lebih banyak bermesra-mesraan dengan Zat Yang memiliki dan menggenggam jiwa kita. Siang hari ia menebar manfaat untuk umat. Di malam yang sunyi sepi, ia sibukkan diri untuk berdialog dengan Allah. Tidak kurang dari seratus rakaat ibadah nawafil dilakoninya sebagai bentuk cintanya kepada Allah Subhanahu wa ta'la.
Rasulullah SAW katakan "'I'mal lidunyaaka ka annaka ta'iisyu Abadan wa'mal li aakhirotika ka annaka tamuutu ghodan --Beramallah untuk dunia seakan-akan kau hidup selamanya. Beramallah untuk akhirat seakan kau akan mati besok'". Ini kalimat motivasi yang luar biasa. Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk semangat, untuk berprestasi, untuk berlomba-lomba. Akan tetapi, dunia bukan akhir segalanya. Ada akhirat yang menjadi rumah abadi kita.
Oleh karena itu, jika sedang bekerja, bekerjalah dengan semangat menyala. Jangan katakan, "Untuk apa kerja bagus-bagus, toh akhirnya mati juga". Ketika sedang ibadah, terbersit urusan dunia hingga hilang kekhusyukan kita. Saat tarawih kita berlomba-lomba untuk menyedikitkan hitungan. Sementara berharap pahala dilipatgandakan.
Ki Enthus Susmono, Bupati Tegal, pernah melantik para petinggi di sekitar kuburan. Saat ditanya kenapa berbuat demikian, Beliau menjawab bahwa walaupun ini urusan dunia, para pejabat mesti ingat mati, ingat akhirat. Inilah salah satu aplikasi keseimbangan urusan dunia dan akhirat. Semoga Romadhon mendidik kita untuk mensinergikan keduanya.