Mutiara Ramadan

Yok Jadi Orang Pelit

UJIAN Allah tidak hanya berupa kesengsaraan dan penderitaan; banyak hutang dan dibenci orang. Akan tetapi, dikelilingi gelimang harta itu ujian yang t

Editor: Bedjo
IST
ilustrasi 

Izzah Zen Syukri
Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang/Dosen FKIP Universitas Sriwijaya

SRIPOKU.COM - UJIAN Allah tidak hanya berupa kesengsaraan dan penderitaan; banyak hutang dan dibenci orang. Akan tetapi, dikelilingi gelimang harta itu ujian yang tidak ringan. Saudara, terkadang kita tak pandai membelanjakan harta kita. Padahal, orang-orang yang lulus dari ujian harta adalah orang-orang "yang pelit".

Berita Lainnya: Solusi dari Ilahi

Oleh karena itu, hai orang-orang yang beruang, sejak saat ini berniatlah menjadi orang pelit. Selama ini mungkin kita "menyedekahkan" harta kita ke mall-mall dengan membeli barang-barang yang terkadang sudah pada level kemewahan, bukan kebutuhan. Acap kali kita memburu barang-barang diskon, padahal di rumah yang kita beli itu mungkin belum berguna.

Suatu hari Abdullah bin Mubarok didatangi seorang pengemis. Kebetulan di rumahnya tidak ada makanan, selain sepuluh butir telur. Dia pun menyuruh pembantunya untuk memberikan telur-telur itu kepada sang pengemis. Tidak berapa lama, seseorang datang mengetuk pintu. Orang ini membawa sembilan puluh butir telur sebagai hadiah.

Abdullah bin Mubarok terkejut. Setelah menerima bingkisan itu, ia pun menegur pembantunya. "Kenapa tidak kau berikan semua telur itu?"

"Maaf, Tuan, sengaja kutinggalkan sebutir untuk nanti kita berbuka puasa," jawab sang pembantu dengan penuh penyesalan. Saudaraku, para sahabat sebagaimana para nabi. Mereka sangat perhitungan untuk berbelanja. Mereka sangat "pelit" mengeluarkan hartanya untuk urusan dunia. Sebaliknya, mereka terbiasa menghabiskan harta mereka di jalan Allah. Mereka boros dan berlomba-lomba menyimpan hartanya kepada Sang Pemilik harta yang sesungguhnya. Mereka tahu betul rahasia di balik bersedekah. Jika bersedekah sedikit, keberkahan yang diperoleh pun tidak banyak. Jangan berharap badan sehat, pikiran tenang, ibadah nikmat, rumah tangga sakinah, anak yang taat jika bersedekah pun berperhitungan luar biasa. Sementara Allah menganugerahkan nikmat-Nya kepada kita berlimpah-limpah banyaknya.

Saudaraku, bunga bank-nya Allah paling sedikit sepuluh kali lipat. Ini berdasarkan firman Allah "m'an jaa-a bil hasanati falahuu ‘asyru amstaaliha--siapa saja yang berbuat kebaikan, maka baginya mendapat sepuluh kali lipat balasan." Lalu, kenapa sedikit sekali di antara kita yang mau berinvestasi di jalan Allah? Kenapa sedikit sekali kita menyisihkan harta untuk mendapat ridho Allah? Kenapa kita lebih suka bersedekah dengan nominal yang paling kecil dan lusuh, sementara cita-cita dan hajat kita segudang jumlahnya?

Percayalah Saudara, harta kita, uang kita, akan turut berdoa untuk mencapai hajat dan cita-cita kita. Tak ada satu makhluk pun diciptakan Allah, melainkan mereka terus-menerus bertasbih dengan cara masing-masing. Adakah yang tak percaya terhadap janji-janji Allah?

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved