Larang Dumptruk Lewat, Warga Dirikan Tenda di Jalan

Puluhan warga RT 1 dan RT 3 Kelurahan Sumberagung Kecamatan Lubuklinggau Utara I menggelar aksi protes terhadap aktivitas dumptruk.

Tayang:
Penulis: Ahmad Farozi | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU – Puluhan warga RT 1 dan RT 3 Kelurahan Sumberagung Kecamatan Lubuklinggau Utara I menggelar aksi protes terhadap aktivitas dumptruk yang melintasi Jalan Karto Sastro diwilayah mereka. Karena, operasional kendaraan pengangkut hasil tambang galian C milik PT Baniah Rahmat Utama (BRU) tersebut dinilai sudah sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan warga setempat.

Pantauan Sripoku.com, Minggu (19/5/2013), warga setempat mendirikan dua unit tenda yang melintang di jalan, supaya dumptruck pengangkut galian C tidak bisa melintas. Disekitar tenda tersebut, warga berkumpul dan mencegat setiap kendaraan operasional milik perusahaan yang lewat.

“Dumptruck yang sudah didalam dan mau keluar kami perbolehkan lewat. Tapi kalau yang dari luar mau masuk ke lokasi tambang kami larang,” ujar Angga (25), salah seorang warga setempat kepada Sripoku.com Minggu (19/5/2013) di lokasi.

Dikatakan, sehari sebelumnya saat gotong royong, warga berembug untuk mencari solusi agar dumptruck PT Baniah tidak lagi melewati jalan diwilayah mereka. Kesepakatannya, warga melakukan penyetopan terhadap kendaraan milik perusahaan yang melintas dan memeringatkan sopirnya agar tak lagi melintas. 

“Tapi saat warga bubar, mereka lewat lagi. Makanya, hari ini (kemarin) kami bikin tenda dan menggelar aksi protes dengan menghadang seluruh kendaraan PT Baniah yang lewat. Mulai saat ini, tidak boleh lagi lewat jalan ini. Kalau mau lewat silahkan cari jalan lain,” ujarnya.
  
Warga lainnya, Dodi (32) mengatakan hal serupa. Menurutnya, warga melakukan aksi protes terhadap aktifitas kendaraan milik PT Baniah yang menggunakan akses jalan diwilayah mereka untuk mengangkut hasil tambang, karena aktifitas tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan keamanan warga. Dicontohkan, setiap kendaraan lewat, rumah mereka jadi berdebu, pakaian yang dijemur jadi kotor. Apalagi kalau operasi bisa sampai tengah malam, sehingga suaranya sangat bising. Selain itu, sopir PT Baniah juga dinilai sangat ugal-ugalan dan arogan. Jalan yang sering dilewati oleh kendaraan PT Baniah juga jadi banyak yang berlobang dan siringnya jadi jebol.

“Kalau lewat selalu ngebut. Parkir sembarangan dan semaunya. Disinikan banyak anak-anak dan hewan ternak. Kalau mereka ugal-ugalan dikhawatirkan anak-anak disini jadi korban. Makanya, mulai sekarang kami sepakat, kendaraan PT Baniah tidak boleh lagi lewat jalan ini,” ujarnya.

Dikatakan, terkait adanya aksi penutupan jalan dan pelarangan bagi kendaraan PT Baniah melewati jalan tersebut, pihak perwakilan dari pihak perusahaan sudah datang dan menemui warga.

“Kami jelaskan alasan kami melarang mereka lewat. Dan mereka sepakat dengan tuntutan kami untuk memerbaiki jalan yang rusak dan siring-siring yang jebol secepatnya. Selanjutnya, mereka tak boleh lagi lewat jalan ini,” katanya. 
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved