Pemilihan Gubernur Sumsel
Eddy Santana: Insya Allah Tidak Korupsi
Eddy Santana Putra, calon Gubernur Sumsel berjanji tidak melakukan praktik korupsi bila ia dipercaya memimpin Provinsi Sumsel.
Tayang:
Penulis: Sutrisman | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - "Insya Allah, saya tidak akan terlibat praktik. Dengan sistem pemerintahan dan pengelolaan keuangan baik, praktik tidak terjadi," ujar Eddy Santana Putra, Senin (22/04/2013) malam Kota Batumarta-II, Kecamatan Lubukraja, Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Pernyataan disampaikan dalam silaturahmi dengan warga dan keluarga pendukung calon Gubernur Sumsel ESP-Win di Batumarta. Pertemuan di Batumarta-II merupakan acara 12 sepanjang hari Senin (22/4/2013).
Ketua PDI-Perjuangan, Eddy Santana Putra, telah membuktikan selama 10 tahun menjadi Walikota Palembang, mampu menekan praktik korupsi dan memberi kenyamanan berinvestasi.
"Selama 10 tahun menjadi walikota, dua kali memperoleh penghargaan dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) memberikan penilaian wajar tanpa syarat atas laporan keuangan di lingkungan pemerintahan kota Palembang," katanya dalam acara yang berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Menurut Eddy Santana, Sumsel merupakan daerah terkaya kelima di seluruh Indonesia. Tetapi tingkat keberhasilan pembangunan masih jauh dari peringkat itu. Dengan APBD lebih dari Rp 5 triliun per tahun, seharusnya percepatan pembangunan dapat tercapai dan dinikmati oleh rakyat Sumsel.
"Bagaimana agar pembangunan dinikmati seluruh rakyat? Ya, jangan dikorupsi. Setiap dana yang dianggarkan harus dilaksanakan pembangunannya. Bukan diselewengkan memperkaya diri sendiri," katanya.
"Belajar gratis sudah lama berlangsung. Kebijakan ini berlaku di seluruh Indonesia dan merupakan amanat konstitusi. Harus diketahui bahwa pendidikan gratis itu suatu pilihan. Semua yang gratis itu dibiayai oleh negara. Negara yang membayar semua itu," kata Eddy Santana, seraya mengingatkan warga bahwa pendidikan dan layanan kesehatan yang baik merupakan hak seluruh rakyat Indonesia.
"Tidak benar kalau ada yang menyebutkan akan mencabut subsidi pendidikan gratis. Tetapi bagaimana siswa dengan mudah mengakses pendidikan gratis itu. Bukan hanya SPP," katanya.
Program pendidikan gratis perlu perbaikan mekanismenya. Sehingga benar-benar sampai ke tangan siswa.
Acara pertemuan dilanjutkan tanya jawab. Sekaligus mendengarkan keinginan dan keluhan masyarakat.
"Jangan memilih pemimpin, gubernur, walikota atau bupati yang hanya pandai bicara. Pilih yang benar-benar mampu dan mau bekerja," kata Eddy Santana, sarjana teknik sipil dan lulusan Belanda untuk masalah drainase di Instute Hydraulic Engineering di Delf, Belanda.