Bunga Bangkai Kembali Ditemukan di Pagaralam
Dua bocah setempat sedang memperhatikan bunga bangkai yang tumbuh di desa Petani Pagaralam Utara. Tampak bunga bangkai tersebut memiliki tinggi sekitar dua meter dengan diameter 20 cm, Selasa (1/6).
BUNGA bangkai yang pertama kali ditemukan Odoardo Beccari seorang pakar botani berkebangsaan Italia kini ditemukan Aan, Abu dan Yusuf. Bunga yang memiliki nama latin Amorphophallus titanum ini ditemukan di kebun kopi milik Marhan, warga kota Pagaralam di Dusun Petani Kelurahan Alun Duo, Kecamatan Pagaralam Utara kota Pagaralam. Warga setempat menemukan bunga yang memiliki bau menyengat itu pada saat mereka sedang mancing di sungai yang berada tak berjauhan dengan tempat tumbuhnya bunga tersebut.
"Kami dang mancing, mangke tekinak bunga keghubut (Sebutan warga sekitar untuk bunga bangkai)," kata Aan.
Saat ini, bunga bangkai yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh itu sudah memekarkan kelopaknya. "Sekarang dia lagi mekar," kata Aan Rabu (02/6)
Saat ditemukan warga hari Kamis (27/5) yang lalu, ketinggian bunga itu sudah sekitar dua Meter. Tak berjauhan dari bunga tersebut, terdapat pendamping bunga bangkai yang memiliki ketinggian hampir sama dengan bunga bangkai itu. Namun sedikit berbeda dengan bunga bangkai, bunga tersebut memiliki daun dan bercabang tiga di bagian atasnya.
"Ini pendamping bunga itu, jelas salah seorang warga yang berada dilokasi itu.
Setidaknya di lokasi tersebut sudah tiga kali ditemukan bunga bangkai itu. Pertama kali ditemukan warga pada tahun 1957, 1986, dan terakhir pada tahun 2010. "Ini penemuan ke tiga," jelas Aan.
Dua Km dari Simpang Empat Petani
Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Satarman, didampingi Kepala Dinas Pertanian Jumaldi Jani menjelaskan bunga bangkai biasa tumbuh di daerah yang dingin. "Tanaman itu tumbuh di daerah yang suhunya berada dibawah 20 derajat Celsius. Ia menambahkan, di kota Pagaralam sedikitnya sudah dua tiga kali ditemukan bunga jenis ini, seperti di Kawasan Sandar Angin dan Bumi Agung dan Alun Duo.
Terkait tumbuhnya bunga bangkai di Kawasan perkebunan milik warga tersebut, tidak akan berpengaruh terhadap tanah dan tumbuhan yang berada di sekitar bunga tersebut. Namun untuk memastikan hal tersebut, dinas Pertanian akan segera meninjau kelokasi terakait penemuan warga tersebut. "Rencananya besok saya bersama tim akan meninjau ke lokasi penemuan itu," tandas Jumaldi.
Untuk menuju lokasi itu, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar dua kilo meter dari Simpang Empat Petani dekat alun-alun kita Pagaralam. Lalu perjalanan dilanjutkan melewati Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Besemah, setelah ada persimpangan terakhir, lalu pengunjung berbelok ke arah kanan. Tak lama kemudian di sebelah kiri lapangan bola terdapat jalan setapak menuju perkebunan kopi milik warga. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar satu kilo meter melintasi perkebunan tersebut. Namun jangan khawatir, di persimpangan tersebut, saat ini sudah disiapkan tempat penitipan kendaraan. Di lokasi penemuan tersebut juga sudah dibuatkan jalan dan pembatas dari bambu. Sehingga bagi warga yang ingin melihat tidak perlu lagi kesulitan dan takut terpeleset karena licinya kawasan tersebut. Jika membutuhkan informasi terkait lokasi penemuan tersebut, dapat menghubungi Aan warga skitar di No telp 085267932374.
Perkembangan bunga bangkai:
Bunga ini muncul dari dalam tanah berasal dari umbi tumbuhan yang telah hilang pada akhir masa pertumbuhannya. Dalam masa perkembangan, bunga atau kembang sangat tergantung pada umbi yang ada di dalam tanah. Bunga ini terdiri dari tangkai bunga, kelopak atau selundang dan bongkol berbentuk tugu ditengah-tengah kelopak bunga.
Perkembangan bunga yang dimulai sejak berbentuk kuncup hingga menjadi kayu diperkirakan kurang lebih dua bulan. Bahkan bunga bangkai yang tumbuh di Taman Wisata Sibolangit pada tahun 1995 masa siklus dari mulai kuncup hingga mekar jauh leih cepat sekitar 22 hari dan waktu tercepat pada saat kelopak bunga layu hanya sekitar 24 jam.
Bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi, ketinggian bunga jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m. Bunga ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae) dan merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.
Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.
Menurut petugas penjaga lokasi budi daya bunga bangkai di hutan Kepahyang, Bengkulu, bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.
Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan ber-rumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya (sekitar tujuh hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.
Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang di budi-dayakan.