Berita Banyuasin

Rupiah Melemah dan Solar Langka, Pengrajin Gerabah di Banyuasin Hanya Produksi Berdasarkan Pesanan

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM)

Tayang:
Penulis: Ardiansyah | Editor: Yandi Triansyah
Sripoku.com/Ardiansyah
GERABAH - Dedi pemilik Gerabah Dedi ketika membuat gentong kecil yang menjadi pesanan pelanggan sebanyak 100 gentong, Selasa (9/6/2026). Dampak nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar dan sulitnya truk mendapat BBM membuat bahan baku membuat gerabah ikut mengalami kenaikan. 
Ringkasan Berita:
  • Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar mulai memukul sektor UMKM di Banyuasin. 
  • Akibat lonjakan harga bahan baku dan merosotnya permintaan, para pengrajin gerabah di kawasan tersebut kini terpaksa beralih ke sistem produksi berdasarkan pesanan
  • Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Dedi, pemilik usaha 'Gerabah Dedi' yang berlokasi di Jalintim Palembang-Betung KM 16, Kelurahan Tanah Mas Indah, Kecamatan Talang Kelapa

SRIPOKU.COM, BANYUASIN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar mulai memukul sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Banyuasin. 

Akibat lonjakan harga bahan baku dan merosotnya permintaan, para pengrajin gerabah di kawasan tersebut kini terpaksa beralih ke sistem produksi berdasarkan pesanan (made-to-order).

Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Dedi, pemilik usaha 'Gerabah Dedi' yang berlokasi di Jalintim Palembang-Betung KM 16, Kelurahan Tanah Mas Indah, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin.

Ia mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku seperti tanah liat, kayu bakar, hingga cat sudah berlangsung selama tiga minggu terakhir.

"Sekarang harga tanah liat melonjak menjadi Rp1,8 juta per truk dari sebelumnya Rp1,5 juta. Begitu juga dengan kayu bakar untuk pembakaran, yang semula Rp1,5 juta kini tembus Rp2 juta per truk. Kenaikan harga dolar dan kelangkaan solar membuat biaya angkut truk melambung tinggi," ujar Dedi kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Imbas dari melambungnya modal produksi tersebut, pengrajin mau tidak mau harus menaikkan harga jual gerabah minimal Rp200 per unit, atau disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan produk.

Namun, kebijakan menaikkan harga ini justru membuat volume pemesanan menurun drastis.

Jika sebelumnya pesanan datang secara masif dari berbagai daerah di dalam maupun luar Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), kini pasar cenderung sepi.

"Saat ini kami hanya membuat gerabah jika ada pesanan saja. Kalau tidak ada, kami tidak berani berspekulasi karena modalnya sudah tinggi. Pesanan yang masuk sekarang pun terbatas pada gentong kecil, pot bunga sedang, dan celengan, itu pun hanya untuk wilayah Banyuasin dan Palembang," tambah Dedi.

Dedi mengaku hanya bisa pasrah menghadapi situasi ekonomi saat ini. Strategi memproduksi gerabah hanya saat ada pesanan dinilai sebagai langkah paling realistis demi menghindari kerugian besar akibat penumpukan barang yang tidak laku terjual.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved