Opini

Ekonomi Islam dan Krisis Lingkungan

Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diberi amanah untuk merawat keseimbangan ciptaan Tuhan dan dilarang melakukan kerusakan di muka bumi.

Tayang:
Editor: tarso romli
Sripoku.com/handout/tidak ada
ABDUS SALAM Salam - Staf di Yayasan ELSA Semarang dan Alumnus FEBI UIN Walisongo Semarang. 

Sekalipun begitu, praktik ekonomi Islam kontemporer kerap kali masih sering menunjukkan orientasi yang terlalu sempit.

Perkembangan perbankan syariah, sukuk, dan pasar modal syariah memang penting, tetapi fokus yang berlebihan pada sektor finansial membuat dimensi sosial dan ekologis ekonomi Islam sering terabaikan.

Masalah mendasarnya sebenarnya terletak pada logika produksi modern yang tetap diadopsi tanpa adanya kritik.

Banyak industri yang berbasis syariah tetap beroperasi dalam paradigma pertumbuhan tanpa batas.

Padahal, teori ecological economics yang dipopulerkan oleh Herman Daly, ekonomi dari Amerika Serikat, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus mustahil akan dipertahankan di planet dengan sumber daya yang sifatnya terbatas.

Teori ini menolak asumsi ekonomi klasik yang menganggap alam selalu mampu menyediakan bahan baku tanpa batas.

Perspektif yang dikembangkan tersebut tentu sangat sejalan dengan larangan israf dalam Islam, yaitu perilaku berlebihan dan pemborosan.

Produksi yang melampaui kebutuhan riil manusia, apalagi didorong oleh manipulasi pasar dan penciptaan kebutuhan semu, sangat bertentangan dengan etika Islam yang menekankan keseimbangan dan kemanfaatan.

Dari sisi aspek konsumsi, Islam menawarkan kritik yang mendalam terhadap budaya materialistik modern. Prinsip qana’ah, hidup sederhana, dan pengendalian nafsu konsumtif mempunyai kesamaan dengan gagasan degrowth (pertumbuhan negatif), yakni kritik terhadap obsesi pertumbuhan ekonomi tanpa batas.

Teori degrowth yang berkembang di Eropa menekankan bahwa kesejahteraan manusia tidak selalu identik dengan peningkatan konsumsi barang.

Sejak awal Islam sudah mengajarkan kepada umatnya bahwa kebahagiaan itu tidak bergantung pada akumulasi materi, tetapi pada keseimbangan hidup dan keberkahan.

Dengan demikian, konsumsi dalam Islam bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi tindakan moral yang memiliki dampak sosial dan ekologis. Pada tingkat global, gagasan ini mempunyai titik temu dengan konsep triple bottom line (TBL) yang diperkenalkan John Elkington.

Konsep tersebut menekankan bahwa pembangunan harus mempertimbangkan tiga aspek sekaligus Profit, People dan Planet (3P), yang bisa ditegaskan pada keuntungan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan.

Nilai-nilai tersebut juga tercermin dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Namun ekonomi Islam memiliki dimensi tambahan yang lebih mendalam, yaitu landasan spiritual.

Jika konsep keberlanjutan modern sering berbasis pada kepentingan pragmatis manusia, Islam menghubungkannya dengan amanah ketuhanan dan pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved