Berita Palembang

Waspada Karhutla, BMKG Prediksi Kemarau 2026 di Sumsel Datang Lebih Awal dan Lebih Kering

Awal kemarau paling dini diprediksi terjadi pada awal Mei, terutama di wilayah OKI bagian selatan.

Penulis: Hartati | Editor: Odi Aria
handout/sripoku.com
WASPADA KARHUTLA -- Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri dan Manggala Agni memadamkan api yang membakar lahan gambut di Danau Burung, Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI beberapa waktu lalu. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal di sejumlah wilayah dengan dominasi kondisi lebih kering dari biasanya. Sejumlah wilayah di Sumsel diimbau waspada karhutla. 
Ringkasan Berita:
  • Musim kemarau di Sumsel diprediksi mulai Mei–Juni 2026, dengan beberapa wilayah mengalami percepatan hingga dua dasarian
  • Mayoritas wilayah mengalami kemarau bawah normal, berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla
  • Puncak kemarau terjadi Juli–Agustus, dengan durasi antara 7–15 dasarian tergantung wilayah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal di sejumlah wilayah dengan dominasi kondisi lebih kering dari biasanya.

Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, mengatakan berdasarkan analisis Zona Musim (ZOM) periode 1991–2020, awal musim kemarau di Sumsel diperkirakan terjadi pada Mei hingga Juni 2026.

Awal kemarau paling dini diprediksi terjadi pada awal Mei, terutama di wilayah OKI bagian selatan.

Sekitar 29 persen wilayah mulai memasuki kemarau pada akhir Mei, sementara 64 persen wilayah lainnya baru mengalami kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.

“Hal ini menunjukkan awal musim kemarau tahun ini cenderung lebih maju dibandingkan kondisi normal,” ujar Wandayantolis, Senin (13/4/2026).

Beberapa wilayah seperti Palembang bagian barat, Musi Banyuasin, dan Banyuasin diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat hingga dua dasarian.

Sementara wilayah lain seperti OKI, Ogan Ilir, dan Muara Enim cenderung sesuai jadwal atau sedikit lebih maju.

Dari sisi sifat musim, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan kondisi bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dari rata-rata.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Puncak musim kemarau di Sumsel umumnya diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan sebagian wilayah mengalami puncak lebih awal pada Juli.

Selain itu, durasi musim kemarau bervariasi antara 7 hingga 15 dasarian (70–150 hari). Wilayah seperti OKU Selatan, Muara Enim bagian selatan, dan Lahat bagian selatan diprediksi mengalami kemarau lebih pendek.

Sebaliknya, Palembang bagian barat, Musi Banyuasin, dan Empat Lawang diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah antisipasi sejak dini guna meminimalkan dampak musim kemarau 2026.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved