Hama Muncul Akibat Keseimbangan Alam Terganggu
PALEMBANG, SRIPOKU.COM - Kepala Seksi Pengendalian Balai Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Sumsel Ir Muhammad Zuhri, MM menilai, berkembangnya ulat bulu dan kini menyerang Sumsel akibat kondisi alam sudah tidak seimbang lagi.
Menurutnya, musuh (predator) alami ulat bulu adalah semut kerengga atau gangga dan burung yang bebas terbang, kini sudah berkurang.
"Burung yang tadinya berkicau di alam bebas, kini sudah jarang terlihat karena ditangkap dan dijual. Tidak hanya itu, burung-burung kecil ditangkap dan dijual ke anak-anak sekolah setelah dikasih warna. Tiga hari setelah itu, burungnya mati," katanya.
Parahnya lagi, masyarakat berburu dan mencari telur semut (kroto) dan semut merah kerengga atau gangga ditangkap untuk dijadikan santapan burung hias dengan alasan agar suara burung merdu jika diberikan makanan seperti itu. Padahal, semut kerengga adalah musuh alami ulat bulu.
"Sekarang semut dibasmi dan telur semut diambil, makanya ulat bulu tidak ada yang memakannya sehingga berkembang biak dan kini justru meresahkan manusia. Kesimbangan alam haruslah dijaga," kata Zuhri.
Menurutnya, kerengga adalah salah satu keluarga semut yang aggresif. Dikenali juga dengan nama Oecophylla smaragdin. Kerengga merupakan semut berjenis penenun(weaver ant) dan membuat sarangnya dengan tenunan daun. Daun-daun yang ditenun dikait dengan menggunakan sutera yang dihasilkan oleh larvanya. Larva kerengga menghasilkan sejenis sutera yang digunakan oleh pekerja kerengga untuk membuat sarang.
"Salah satu sifat kerengga adalah aggresif dan mempunyai tabiat memburu yang ganas. Kerengga memburu serangga lain, seperti ulat untuk dijadikan makanan," jelas Zuhri.