Breaking News:

Mata Telinga Angkatan Darat, Sejarah Babinsa Lahir di Zaman Soekarno & Jadi Alat Politik Soeharto

"Saya bilang, kalau ada informasi-informasi, saya akan berlakukan seperti zaman Pak Soeharto dulu. Para Babinsa itu harus tahu, jarum jatuh pun dia

Editor: Yandi Triansyah
KOMPAS.COM/HAMIM
Heri Purnomo, Babinsa Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, saat memberikan edukasi dan imbauan kepada warga untuk menjaga kamtibmas kampung miliarder. Jumat (19/2/2021). 

SRIPOKU.COM - Peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) akan dimaksimalkan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Dudung Abdurachman untuk mengantisipasi gerakan radikalime.

Jenderal bintang empat itu bahkan blak-blakan ingin mengembalikan fungsi Babinsa saat seperti di masa Orde Baru.

Untuk mewujudkan hal itu memaksimalkan peran Babinsa tersebut, Dudung menginginkan Babinsa supaya dapat menyerap segala informasi yang menyangkut perkembangan kelompok ekstrem kanan dan kiri dalam tindakannya menjurus radikal.

"Saya bilang, kalau ada informasi-informasi, saya akan berlakukan seperti zaman Pak Soeharto dulu. Para Babinsa itu harus tahu, jarum jatuh pun dia harus tahu," ujar Dudung, dikutip dari Kompas.id, Jumat (19/11/2021).

Dudung meminta kepada Babinsa apabila prajurit TNI AD mendapatkan informasi mengenai pergerakan dari kelompok tersebut sebaiknya segera berkoordinasi dengan kepolisian.

Supaya bisa dilakukan tindakan tegas.

"Jadi kalau ada organisasi yang coba menganggu persatuan dan kesatuan, jangan banyak diskusi, jangan terlalu banyak berpikir tetapi lakukan," kata Dudung.

Jarum Jatuh Pun Harus Tahu Jenderal Dudung akan Berlakukan Seperti Zaman Soeharto

Lahir di era Soekarno

Babinsa lahir sekitar 1963, tepat pada saat rezim Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno masih bercokol.

Saat itu, belum disebut Babisan seperti sekarang ini, hanya disebut Bintara Pembina.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved