Persisam Juara Masyarakat Cuek
SAMARINDA, SRIPO — Keberhasilan Persisam Putra Samarinda menjadi juara Divisi Utama Liga Indonesia 2008/2009 setelah mengkandaskan Persema Malang 1-0 di Stadion Utama Palaran Samarinda, Jumat malam (29/5) disambut dingin oleh sejumlah kalangan.
Dilaporkan di Samarinda, Sabtu sejumlah kalangan mengaku tidak merasa mengalami sebuah kejutan dengan keberhasilan tersebut.
“Kita sebagai warga Samarinda merasa bangga dengan prestasi itu namun terus terang ada beberapa hal yang terasa mengganjal,” kata Sutrisno SE, mantan manajer Pusam (Putra Mahakam), tim dari Samarinda yang mengikuti kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia musim 1999/2000.
Pasalnya, katanya, terkait dengan keuntungan sebagai tuan rumah, serta kepemimpinan wasit dalam beberapa pertandingan, termasuk saat laga final sehingga mengurangi unsur kejutan bagi keberhasilan meraih juara Divisi Utama Liga Indonesia musim ini.
Sebelumnya, Samarinda memiliki PS Pusam yang masuk beberapa kali dalam musim kompetisi Devisi Utama Liga Indonesia dan Persisam yang sebagai tim perserikatan yang kemudian dilebur menjadi Persisam Putra Samarinda.
Ia memperkirakan bahwa masyarakat setempat melihat keberhasilan Persisam karena didukung berbagai “faktor X” bukan semata-mata karena kemampuan pemain.
Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat menyambut dingin atau tidak merasa ada unsur kejutan saat Persisam mengalahkan Persema kemudian menjadi juara.
“Ke depan, Persisam perlu benar-benar serius membenahi susunan tim karena persaingan pada level Indonesia Super Liga sangat ketat. Terutama membenahi kelemahan pada lini pertahanan, termasuk penjaga gawang. Terbukti Persisam beberapa kali kebobolan, meskipun kemudian bisa membalasnya dengan menjebol gawang lawan,” kata Sutrisno yang juga dikenal sebagai Ketua Dewan Suro PKB itu.
Ia menuturkan bahwa ketika menjadi manejer PS Pusam Samarinda pada Divisi Utama Liga Indonesia musim 1999/2000, kondisinya jauh berbeda dengan saat ini, khususnya terkait dengan unsur dana karena saat itu harus mencari sendiri.
“Saat ini, kondisinya berbeda karena mendapat dukungan dana besar dari pemerintah daerah. Kita berharap dengan dukungan dana besar itu harusnya dimanfaatkan untuk mengembangkan dunia sepak bola di daerah, misalnya jangan dimanfaatkan untuk membayar gaji pemain asing karena pasti membutuhkan alokasi dana yang besar. Lebih baik diarahkan untuk pembibitan pemain lokal,” papar Sutrisno.
Hal senada dikatakan oleh mantan pemain Persisam yang juga pernah ikut program Pelatnas, Aji Dharma Alex mengaku bahwa tidak merasa terkejut dengan hasil tersebut.
Pada laga final antara Persisam dengan Persema, wasit dua kali menghadiahkan tendangan penalti untuk Persisam meskipun eksekutor masing-masing Gustavo Ortiz pada menit ke-38 dan Uston Nawawi menit ke-72 gagal merobek jala Persema.
Sejumlah penonton merasa kecewa melihat jalan permainan pada laga final, khususnya terkait dengan kepemimpinan wasit. Sebelumnya, Persisam juga beberapa kali mendapat hadiah penalti baik pada dua babak delapan besar grup K dan semi final Divisi Utama Liga Indonesia 2008/2009.