Ada Tuan tak Bertuan

Di Kota Palembang khususnya, dan Sumsel umumnya, banyak hal, nama sesuatu, tempat, lingkungan dan makanan serta lainnya yang asalnya disebut dengan sebutan asal-asalan, asal bunyi. Atau apa yang disebut pertama kali, itulah yang jadi sebutan seterusnya, walaupun ternyata sebutan itu keliru. Kolom ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun, tetapi bisa jadi kritik Sosial (Koreksi) buat siapapun yang mungkin berkewenangan meluruskannya, mari kita kaji

Ada Tuan tak Bertuan
TUAN-tuan pembaca tentu tahu dan mengerti apa arti kata “Tuan” meski begitu akan saya jelaskan juga. Sebutan tuan biasanya tertuju kepada seorang laki-laki yang umumnya ditujukan  pada lelaki yang lebih tua, atau orang yang dihormati. Sebutan atau panggilan “tuan” agaknya sekarang ini sudah jarang digunakan, jarang dipakai sebagai sapaan umum, hanya di kalangan tertentu dan terbatas.

Sebutan tuan lebih banyak dipakai pada jaman dulu (jadul), biasanya untuk orang “asing” atau seseorang yang dihormati, seperti sebutan “Tuan guru, tuan tanah, tuan Residen” dan tuan-tuan lainnya. Barangkali maksud penyebutan nama “tuan” itu untuk mengenang “tokoh” yang pernah ada di daerah itu pada masa dulu, karena berpengaruh atau berjasa kepada masyarakat.

Sehubungan dengan peristiwa “jadul” inilah korelasinya kata tuan kita munculkan. Di Palembang ada dua kampung yang menggunakan kata “Tuan”, yaitu Tuan Kapar dan Tuan Kentang. Kampung Tuan Kapar adanya di Kelurahan 14 Ulu (laut) Kec. Seb. Ulu II sekarang, tepatnya di tikungan sebelum menuju ke arah Pekuburan Umum “Naga Swidak/Telaga Sewidak”. Apa sebab disebut “tuan kapar”, siapa sebenarnya “Tuan Kapar” itu, saya pun belum sempat menelitinya.

Sebelum “Kampung Tuan Kapar” (Kel. 14 Ulu), ada kelurahan 13 ulu, mayoritas dihuni oleh penduduk keturunan Arab yang sudah lama menetap. Bangsa Arab juga ada suku atau marga, diantaranya Al Habsyi, Assegaaf, Al Munawwar. Salah satu lorong diberi nama “Al Munawwar”. Akibatnya sampai sekarang warga menyebutnya Kampung “Al Munawwar” atau kadang disebut juga kampung Al Menoar.
Apalagi di sana ada satu Perguruan Islam “Al Munawwariyah”. Padahal kampung resminya 13 Ulu (laut) yang pada bulan Ramadhon lalu heboh karena tenggelamnya tiga orang Santri (Hafidz Qur’an) dari Ponpes “Ar Riyadh” 13 Ulu.

Kalau kampung Tuan Kapar dan Al Menoar di Kec. SU II. Maka kampung Tuan Kentang letak mulanya dalam Kelurahan 15 Ulu Kec. Seb. Ulu I. Jaraknya bisa mencapai 5 sampai 7 Km. Aneh bukan? Sesudah 14 Ulu disambung 16 Ulu, sedangkan 15 Ulunya ada di Kec. SU .I.

Dalam 10 tahun belakangan, nama Tuan Kentang didefinitifkan menjadi satu kelurahan sendiri dengan memecah kelurahan 1 Ulu Darat menjadi Kelurahan Tuan Kentang. Sekali lagi apa dan siapakah “Tuan Kentang” itupun saya pun belum sempat meneliti sampai ke sana.

Yang jelas, sebelum nama “Tuan Kentang” diresmikan menjadi Kelurahan, masyarakat sudah biasa menyebut daerahnya itu dengan sebutan Kampung Tuan Kentang, meskipun pada waktu itu belum ada kepala kampung (Lurahnya). Begitu juga di 14 Ulu, masih ada saja masyarakat menyebut Tuan Kapar untuk alamat tempat tinggalnya, padahal kelurahan resminya 14 Ulu. Harap dimaklumi jikalau apa yang saya ungkapkan disini ada yang keliru, wajar saya manusia biasa yang tidak lepas dari salah dan keliru, boleh kok anda memperbaiki keliru-keliruku itu. Sebab keliruku adalah keliru mu juga, bahkan keliru kita semua. *

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved