Berita Lahat

Puluhan Ekor Kerbau di Kecamatan Merapi Selatan Kabupaten Lahat Sumsel Mati Mendadak

Sekitar 50 ekor hewan ternak kerbau milik peternak di Kecamatan Merapi Selatan Kabupaten Lahat, Sumsel mati mendadak pada Senin (28/4/2025).

Tayang:
Penulis: Ehdi Amin | Editor: tarso romli
sripoku.com/ehdi amin
MATI MENDADAK - Puluhan hewan ternak kerbau warga di Kecamatan Merapi Selatan Kabupaten Lahat Sumsel mati mendadak. Ditenggarai, kerbau-kerbau yang mati karena serangan penyakit ngorok atau Septicemia Epizootica (SE).. 

SRIPOKU.COM, LAHAT - Puluhan ekor hewan ternak kerbau milik warga di Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat, Sumsel mati mendadak. Hingga berita ini diturunkan, tercatat sekitar 40 hingga 50 ekor kerbau telah mati.

Kematian mendadak puluhan kerbau warga ini diduga disebabkan oleh wabah penyakit ngorok atau Septicemia Epizootica (SE).

Andi Sucitera, tokoh masyarakat di Kecamatan Merapi Selatan, mengungkapkan bahwa kejadian ini telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Selain kerbau, sejumlah sapi juga terpaksa disembelih karena menunjukkan gejala serupa.

"Kerbau warga ini matinya tersebar di banyak tempat karena mayoritas kerbau ini diliarkan. Ada yang mati di kubangan, di kebun warga, di hutan, dan di aliran sungai," ungkap Andi Sucitera pada Senin (28/4/2025).

Andi menyatakan bahwa kejadian ini telah dilaporkan kepada pihak terkait untuk segera ditindaklanjuti. Ia menekankan perlunya penanganan cepat agar seluruh hewan ternak kerbau dan sapi warga tidak terancam mati.

"Saat ini, setiap hari ada saja kerbau warga yang disembelih. Saya berharap Bidang Peternakan sigap, menangani ini dengan serius, dan tidak menjadikan momen pengobatan ini sebagai kegiatan seremonial saja," kata mantan anggota DPRD Lahat periode 2019-2024 ini.

Febri, peternak kerbau di Lahat, Kecamatan Merapi Selatan, mengungkapkan bahwa tujuh ekor kerbaunya telah mati, lima ekor terpaksa disembelih, dan dua ekor dijual dengan harga murah dalam sebulan terakhir. Ia berharap pihak terkait segera melakukan pengobatan kembali.

"Awalnya terlihat hidung kerbau mengeluarkan banyak lendir. Jika sudah begini, kerbau akan mati dalam waktu sekitar 4 jam. Saat hidungnya berlendir, kerbau mencari tempat berendam, kejang-kejang, lalu mati mendadak. Kendala kami adalah menangkap kerbau tersebut, yang bisa memakan biaya Rp 1 juta per ekor. Namun, jika ada pengobatan dan waktunya sudah ditentukan, kami siap mengandangkan hewan ternak kami," ungkapnya.

Kabid Peternakan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Lahat, Adi Sulistyo, menjelaskan bahwa kematian kerbau warga tersebut disebabkan oleh penyakit SE (ngorok). Penanganannya hanya melalui pengobatan. Kondisi serupa pernah terjadi di Kecamatan Tanjung Tebat pada Desember 2024, namun berhasil ditangani dengan cepat.

"Kami sudah dua kali ke lokasi (Merapi Selatan). Hewan yang sakit sudah kami obati, yang sehat kami beri vitamin. Namun, masalahnya adalah banyak kerbau warga yang diliarkan. Kami tidak mampu melayani jika ternak warga diliarkan. Setidaknya, kerbau tersebut harus ditangkap dan dikandangkan," terang Adi.

Adi berharap agar peternak, pemerintah desa, dan kecamatan dapat bekerja sama dengan pihaknya dalam melakukan pengobatan, dengan menentukan jadwal dan mengandangkan hewan ternak. Dengan keterbatasan tenaga yang ada, pihaknya tidak dapat berulang kali memberikan pelayanan untuk satu kecamatan saja.

"Penyakit ini tidak berbahaya bagi manusia, tetapi dapat menyerang sapi dan kambing. Awalnya, penyakit ini terbawa dari luar. Untuk itu, kami mengimbau peternak untuk tidak menjual hewan kerbaunya jika terindikasi penyakit, agar penyakit tersebut tidak menyebar ke wilayah lain," harap Adi Sulistyo.

Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved