Berita Palembang

Nikmatnya Seblak Bisa Berujung Penyakit, Sebulan 20-25 Pasien Dirawat di Puskesmas Naga Swidak

Namun, di balik kenikmatan seblak, tersembunyi bahaya kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Penulis: Angga | Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Sripoku.com
ILUSTRASI SEBLAK - Seblak, makanan yang kini tengah digandrungi masyarakat, memang menggugah selera dengan rasanya yang pedas, manis, dan asin, serta beragam toping yang menggoda. Namun, di balik kenikmatan seblak, tersembunyi bahaya kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Foto Diambil Beberapa Waktu Lalu 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Seblak, makanan khas Jawa Barat yang kini tengah digandrungi masyarakat, memang menggugah selera dengan rasanya yang pedas, manis, dan asin, serta beragam toping yang menggoda.

Namun, di balik kenikmatan seblak, tersembunyi bahaya kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

dr. Hj. Masayu Meidiawani, Kepala Puskesmas Naga Swidak Palembang, mengungkapkan bahwa konsumsi seblak berlebihan dapat memicu berbagai penyakit.

Bumbu seblak yang terlalu pedas dapat berdampak langsung pada lambung, usus, dan menyebabkan diare.

"Jika secara langsung bumbu yang terlalu pedas, akan berdampak ke lambungnya, ususnya, serta diare, tapi jika secara jangka panjang, misalnya hanya makan seblak tanpa diselingi dengan nutrisi dan protein lainnya akan berdampak besar untuk kesehatan tubuh," ungkap dr. Hj. Masayu Meidiawani, Jumat (31/1/2025).

Ia juga menambahkan bahwa dalam sebulan, Puskesmas Naga Swidak menerima banyak pasien dengan keluhan sakit perut, terutama remaja yang gemar mengonsumsi seblak.

"Sudah banyak pasien kita seperti itu bisa sampai 20-25 dalam satu bulan," ungkapnya.

Oleh karena itu, dr. Masayu mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga porsi dan membatasi tingkat kepedasan seblak yang dikonsumsi.

"Jangan terlalu sering-sering ya, kira-kira 1 bulan 1 kali saja," ujarnya.

Ia juga menyoroti kebiasaan remaja yang seringkali tidak mengonsumsi makanan bergizi setelah makan seblak.

Padahal, seblak yang dilengkapi dengan sayuran pun belum cukup memenuhi kebutuhan nutrisi dan protein tubuh.

"Karena remaja saat ini, ketika sudah makan seblak tidak ada selingan lagi seperti makan nasi, makanan yang mencukupi nutrisi dan proteinnya," ungkapnya.

"Ada beberapa yang memakai sayur, tapi secara kuantitas serat dari sayur itu, belum mencukupi kebutuhan nutrisi dan proteinnya karena kita tahu, bumbunya terutama cabe yang levelnya yang tinggi, menimbulkan penyakit," katanya.

Untuk meminimalisir dampak buruk seblak, dr. Masayu menyarankan agar masyarakat mengonsumsi makanan bergizi seperti nasi, ikan, sayuran, dan makanan berprotein tinggi setelah makan seblak.

Dengan begitu, diharapkan penyakit seperti sakit perut dan diare dapat dihindari.

"Kita juga harus tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi dan protein, serta mengonsumsi seblak secara wajar itu setidaknya bisa tidak menimbulkan penyakit terutama, sakit perut dan diare," ungkapnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved