Harga Gabah Mahal, Petani Pilih Jual Gabah Ketimbang Beras, Ini Kata DKPP Sumsel

Harga gabah saat ini terbilang cukup mahal, membuat petani memilih untuk menjual gabah hasil dari sawahnya ke tengkulak ketimbang beras.

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: adi kurniawan
Handout
Ilustrasi petani jemur gabah -- Harga gabah saat ini terbilang cukup mahal, membuat petani memilih untuk menjual gabah hasil dari sawahnya ke tengkulak ketimbang beras. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Harga gabah saat ini terbilang cukup mahal, membuat petani memilih untuk menjual gabah hasil dari sawahnya ke tengkulak ketimbang beras.

Akibatnya banyak penggilingan padi gulung tikar atau tidak beroperasional.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel Ruzuan Effendi mengatakan, memang tidak ada regulasinya terkait petani mau jual gabah kemana.

"Jadi tidak ada regulasinya dan kita tidak bisa menahan ataupun memberikan sanksi terkait hal tersebut," kata Ruzuan saat dikonfirmasi, Senin (29/1/2024).

Menurutnya, petani tentu inginnya yang instan, ambil ditempat dengan harga mahal. Dia akan lebih memilih seperti itu.

Tapi kalau penggilingan sanggup membeli itu maka sah-sah saja. Karena memang tidak ada aturannya terkait itu

Misalkan kalau dibeli di penggilingan Rp 5000 per kg, sedangkan di tengkulak atau pedagang Rp 5500 per kg langsung ambil di rumah, tentu petani akan lebih memilih jual ke tengkulak. 

"Ini seperti dua mata sisi, pertama senang petani kita mendapatkan hasil yang bagus dengan harga jual yang baik. Tapi disisi lain terjadi pengurangan tenaga kerja karena ada penggilingan yang tidak bisa beroperasional," ungkapnya

Untuk itu menurutnya, pihaknya hanya bisa memberi imbauan kepada petani jangan dijual semua gabahnya, disimpan sehingga punya simpanan sampai panen berikutnya.

"Jadi ada savingnya," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved